Kamis, 04 April 2013

Posted by almuqontirin
No comments | 08.41

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada umumnya orang tak sadar dengan masalah membaca membacanya. Kebanyakan orang telah puas dengan kondisi kemampuan membacanya, baik dalam kecepatan maupun dalam tingkat pemahaman. Padahal, secara teoretis kecepatan dan pemahaman terhadap bacaan itu dapat ditingkatkan dua atau tiga kali lipat dari kecepatan dan pemahaman semula menurut (Nurhadi 2005: 17).

Dalam membaca cepat terkadang di dalamnya pemahaman yang cepat pula. Bahkan pemahaman inilah yang menjadi pangkal otak pembahasan, bukannya kecepatan. Akan tetapi, tidak berarti membaca lambat akan meningkatkan pemahaman. Bahkan orang biasa membaca lambat untuk mengerti suatu bacaan akan dapat mengambil manfaat yang besar dengan membaca cepat. Sebagaimana mengendarai mobil, seorang pembaca yang baik akan mengatur kecepatannya dan memilih jalan terbaik untuk mencapai tujuannya. Kecepatan membaca anda sangat tergantung pada bahan dan tujuan anda membaca anda harus sering dengan kecepatan anda memahami bahan bacaan tersebut (Soerdarso 2002).

Dalam membaca siswa masih ada yang membaca dengan menggunakan jari agar tidak ada kata yang terlewati maka di lakukan dengan bantuan jari atau pensil yang menunjukan kata demi kata. Karena cara demikian itu dipraktekkan terus-menerus dan tidak ada yang memberikan petunjuk lebih lanjut bahwa sebetulnya tidak perlu dilakukan apabila kita telah pandai membaca, akhirnya itu menjadi kebiasaaan dan dilakukan sampai dewasa. Cara membaca dengan menunjuk jari atau benda lain itu sangat menghambat membaca sebab gerakan tangan lebih lambat daripada gerakan mata.

Selain itu ada juga siswa dalam membaca masih ada yang menggerakkan kepalanya karena semasa kanak-kanak penglihatan kita memang masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Akibatnya adalah bahwa kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untuk padat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa penglihatan kita telah mampu secara optimal sehingga seharusnya cukup mata saja yang bergerak, cara membaca seperti itu menghambat membaca sebab menggerakkan mata itu lebih cepat dan lebih mudah dilakukan daripada menggerkakkan kepala.

Menambahkan (Soedarso 2002) dalam membaca cepat supaya siswa menghindari hambatan fisik seperti membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca, karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam, sekalipun dengan mulut mengantup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca dengan bersuara. Untuk mengetahui apakah kita mengucapkan kata-kata itu atau tidak, terletakkan tangan di leher sementara membaca. Bila getaran terasa di jakun (gulu menjing), itu berarti kita membaca dengan bersuara. Sedangkan menggerakan bibir di saat membaca itu juga sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan membaca suara ataupun dengan menggerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca secara diam.

Banyak orang menghadapi buku atau bacaannya dari awal sampai akhir dari membaca beranggapan bahwa dengan cara itu mereka pasti menguasai isi bacaan. Ternyata hal itu tidak benar. Untuk memahami suatu bacaan kita tidak cukup hanya membaca sekali saja, tetapi kita harus mengambil langkah-langkah yang strategis untuk menguasai bahan itu dan mengingatnya lebih lama. Jadi, usaha yang efektif untuk memahami dan mengingat lebih lama dapat dilakukan dengan cara: (1) mengorganisasikan bahan yang di baca dalam kaitan yang mudah dipahami dan (2) mengaitkan fakta yang satu dengan yang lain, atau dengan menghubungkan pengalaman atau konteks yang anda hadapi. Pemahaman atau komprehensip adalah kemampuan membaca untuk mengerti: ide pokok, detail yang penting, dan seluruh pengertian. Untuk pemahaman itu perlu: (1) menguasai perbendaharaan kata, (2) akrab dengan struktur dasar dalam penulisan (kalimat, paragraf, tata bahasa). Kemampuan tiap orang dalam memahami apa yang dibaca berbeda. Hal ini tergantung pada perbendaharaan kata yang dimiliki, minat, jangkauan mata, kecepatan interpretasi, latar belakang pengalaman sebelumnya, kemampuan intelektual, keakraban dengan ide yang dibaca, tujuan membaca, dan keluwesan mengatur kecepatan (Soedarso 2002:58)

Selain itu banyak siswa lebih cenderung memilih bacaan yang menarik daripada bacaan yang lebih banyak manfaatnya karena banyak siswa yang hobi membaca buku komik yang ceritanya itu sedikit manfaatnya daripada buku pelajaran. Padahal buku pelajaran adalah buku yang berisi ilmu-ilmu penting yang menambah pengetahuan kita. Sehingga sebagian siswa ada yang membaca buku lambat sebab buku yang dibaca tidak disukai. Oleh sebab itu selain membaca buku yang di sukai orang tua juga harus memperhatikan buku yang dibaca anak seperti buku-buku pelajaran agar siswa suka dan hobi membaca buku dengan cepat.

Siswa yang tidak mendapat bimbingan, latihan khusus membaca cepat, sering mudah lelah dlam membaca karena lamban dalam membaca, tidak ada gairah, merasa bosan tidak tahan membaca buku, dan terlalu lama untuk menyelesaikan buku yang tipis sekalipun. Orang pun cepat lelah karena kegiatan lebih bertumpu pada aktivitas otot.

Menurut (Soedarso 2002:14) sebagian karena tingkat kecerdasannya orang hanya mampu membaca 125 kpm (kata per menit). Pada umumnya, orang membaca jauh lebih lambat dari pada kemampuannya. Orang dewasa di Amerika yang belum pernah mendapat latihan khusus kecepatannya antara 200-500 kpm, beberapa orang sampai 325-350 kpm, dan beberapa orang yang terlalu lambat, yaitu 125-175 kpm. Orang dewasa Indonesia, seperti yang penulis catat berdasarkan kursus-kursus yang diadakan, keadaannya seperti di Amerika, yaitu 175-300 kpm. Akan tetapi, pada pertengahan kursus (minggu kedua), pada umumnya, dapat dinaikkan menjadi 350-500 kpm. Semua itu dengan pemahaman 70 persen. Bukti lain yang pernah ada ialah apa yang dilakukan (John A. Broyson dalam Nurhadi 2005:35) Ia melatih sejumlah 111 orang untuk ditingkatkan kecepatan membacanya. Pada awal latihan, kecepatan mereka pada mulanya berkisar antara 115-210 kata permenit, tetapi tiga bulan kemudian dengan latihan yang intensif, 52 orang mampu meningkatkan kecepatan membacanya menjadi 295-325 kata per menit (dua sampai tiga kali lipat)

Untuk mengukur kecepatan membaca kita menggunakan rumus kecepatan membaca yaitu jumlah kata yang dibaca di bagi jumlah detik untuk membaca dikalikan 60 = jumlah kpm (kata per menit) selain itu untuk menghitung jumlah kata dalam lima baris dahulu lalu bagi lima. Hasilnya merupakan jumlah rata-rata per baris dari bacaan itu. Lalu hitung jumlah baris yang kita baca, dan kalikan dengan jumlah rata-rata tadi, hasilnya merupakan jumlah kata yang kita baca.

Dalam membaca cepat kita harus benar-benar menyadari dan mau membaca cepat dan agresif untuk menyelesaikan bahan bacaan dan memaksakan diri untuk menambah kecepatan membaca. (Soedarso 2002:84) mengungkapkan selain itu jurus membaca yang sangat ampuh untuk mengukur kecepatan kita dalam membaca dan sangat efektif memberikan hasil seperti itu yaitu dengan skimming dan scanning. Jika kita tidak membutuhkan fakta dan detailnya, maka lompati fakta detail itu dan pusatkan perhatian untuk cepat menguasai ide pokoknya. Cara membaca yang hanya untuk mendapatkan ide pokoknya ini disebut skimming, sedangkan kita perlu melompati lainnya dan langsung ke sasaran yang kita cari itu di sebut scanning. Selain itu kita membuat ringkasan, mengambil intisari suatu bab, bagian, atau paragraf, kita akan menguasai ide yang di kandungnya. Catatan tidak boleh terlalu panjang atau terlalu banyak karena akan sulit mengaturnya, tetapi secukupnya sehingga membantu pemahaman kita.

Di dalam bukunya (Soedarso 2002:59) sejak lima puluh terakhir para ahli psikologi pendidikan telah menyelidiki cara-cara membaca yang efisien dan mengemukakan beberapa sistem salah satu yang banyak dikenal dan dipraktekkan orang adalah SQ3R. Secara umum sistem-sistem yang di kemukakan orang ahli itu memakai pendekatan sama yang membuata kita aktif dan bertujuan dalam menghadapi bacaan. Teknik-teknik yang diberikan dimaksudkan untuk menemukan ide pokok dan detail penting yang mendukung ide pokok serta mengingatnya lebih lama. Sistem membaca SQ3R dikemukakan oleh (Francis P. Robinson 1941) merupakan proses membaca yang terdiri dari lim langkah : survey, question, read, recite, review (SQ3R).

Dengan membaca menggunakan teknik SQ3R kita akan mudah dan cepat menangkap ide-ide pokok bacaan dengan cara mensurvei buku bacaan. Sehingga pembaca mengerti apa isi maksud yang terkandung dalam bacaan tersebut. Selain itu pembaca juga akan cepat menangkap gagasan bacaan itu dengan detail. Pada saat kita membaca bagian-bagian yang penting usahakan supaya diperlambat dalam kita membacanya dan jangan sampai saat membaca bagian yang penting atau bagian yang dianggap kita susah kita tandai dengan garis bawahi karena itu akan mempengaruhi kita dalam membaca cepat.

Selain itu dalam membaca teknik SQ3R manfaat lainnya kita menghemat waktu dalam membaca buku dan yang paling penting adalah hafal isi bacaan itu oleh karena itu di dalam teknik membaca SQ3R yang terakhir usahakan untuk menelusuri kembali judul-judul dan sub judul dan bagian-bagian penting yang perlu diingat kembali. Karena selain membaca data ingat dan akan memperjelas pemahaman kita dalam membaca. Sebab (Soedarso 2002:64) daya ingat kita terbatas, sekalipun pada waktu membaca 85 persen kita menguasai isi bacaan. Kemampuan kit dalam 8 jam untuk mengingat detail yang penting tinggal 40 persen dan dalam tempo dua minggu pemahaman kita tinggal 20 persen.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah kita kemukakan di atas maka dapat di rumuskan permasalahan antara lain:

1. Bagaimana peningkatan kemampuan teknik membaca cepat dengan teknik SQ3R?

2. Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan teknik SQ3R?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui peningkatan teknik membaca cepat dengan teknik SQ3R

2. Untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan teknik SQ3R

D. Manfaat Penelitian

1. Untuk mengembangkan teknik pembelajaran siswa dalam membaca buku bacaan dengan cepat dan efektif dengan teknik SQ3R

2. Dapat menghemat waktu dalam membaca buku bacaan

3. Siswa dengan mudah menangkap ide-ide pokok

4. Siswa dapat melatih daya ingat

5. Siswa dapat meningkatkan dalam membaca cepat

6. Sebagai masukan bagi guru untuk mengembangkan teknik SQ3R dalam pembelajaran membaca cepat dan efektif

BAB II

KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN DAN KERANGKA BERFIKIR

A. Kajian Teori

1. Hakikat Membaca Cepat

a. Pengertian membaca

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis (Hendry Guntur Tarigan 1979:7)

Sedangkan pengertian membaca cepat adalah

1. Muchishoh (1992:153) mengatakan membaca cepat yaitu jenis membaca yang diberikan dengan tujuan agar para siswa dalam waktu singkat dapat membaca secara lancar, serta dapat memahami isinya.

2. Soedarso, Speed Reading (Gramedia, cet.11,2004), mengatakan “Metode speed reading merupakan semacam untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi”.

3. Membaca cepat adalah bagaimana kita dapat membaca dengan pemahaman yang lebih baik dalam waktu lebih cepat serta mengingatnya dengan baik pula. Bersamaan dengan hal tersebut di atas Supriyadi (1995:127)

Dari ketiga pengertian membaca cepat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca cepat adalah jenis membaca yang mengutamakan kecepatan, dengan tidak meninggalkan pemahaman terhadap aspek bacaan.

b. Faktor-faktor Menghambat Membaca Cepat

Banyak faktor-faktor yang menghambat kita saat membaca buku. Selanjutnya hal-hal sangat mempengaruhi dalam membaca cepat di tuliskan di bawah ini.

1.) Vokalisasi

Voalisasi atau membaca dengan bersuara sangat memperlambat membaca, karena itu berarti mengucapkan kata demi kata dengan lengkap. Menggumam, sekalipun dengan mulut terkatup dan suara tidak terdengar, jelas termasuk membaca dengan bersuara

Untuk mengetahui apakah kita menguc apkan kata-kata itu atau tidak, letakkan tangan di leher sementara membaca. Bila getaran terasa di jakun (gulu menjing), itu berarti anda membaca dengan bersuara.

2.) Gerakan bibir

Orang dewasa ada yang meneruskan kebiasaan di waktu kecil, yaitu mengucapkan kata demi kata apa yang dibaca dengan menggerakkan bibir atau komat-kamit sewaktu membaca, sekalipun tidak mengeluarkan suara, sama lambatnya dengan membaca bersuara. Kecepatan membaca bersuara ataupun dengan gerakan bibir hanya seperempat dari kecepatan membaca secara diam. Dengan menggerakkan bibir kita lebih sering regresi (kembali ke belakang) sebab ketika mata dapat dengan cepat bergerak maju, suara kita masih di belakang.

3.) Gerakan kepala

Semasa kanak-kanak penglihatan kita memang masih sulit menguasai seluruh penampang bacaan. Akibatnya adalah bahwa kita menggerakkan kepala dari kiri ke kanan untu dapat membaca baris-baris bacaan secara lengkap. Setelah dewasa pengliatan kita telah mampu secara optimal sehungga seharusnya cukup mata saja yang bergerak.

4.) Menunjuk dengan tangan

Semasa baru belajar membaca kita harus mengucapkan kata demi kata apa yang kita baca. Untuk menjaga agar tidak ada kata yang terlewati maka dilakukan dengan bantuan jari atau pensil yang menunjuk kata demi kata. Karena cara demikian itu dipraktekkan terus menerus dan tidak ada yang memberikan petunjuk lebih lanjut bahwa sebetulnya tidak perlu lagi dilakukan apabila kita telah pandai membaca, akhirnya era itu menjadi kebiasaan dan dilakukan sampai dewasa.

5.) Regresi

Dalam membaca, mata mestinya bergerak kekanan untuk menangkap kata-kata yang terletak berikutnya. Akan tetapi,sering mata bergerak kembali ke belakang untuk membaca ulang suatu kata atau beberapa kata sebelumnya. Kebiasaan selalu kembali (regresi) ke belakang untuk melihat kata atu bebrapa kata yang baru di baca itu menjadi hambatan yang serius dalam membaca.

6.) Subvokalisasi

Subvokalisasi atau melafalkan dalam batin/pikiran kata-kata yang di baca juga dilakukan oleh pembaca yang kecepatannya telah tinggi. Subvokalisasi juga menghambat karena kita menjadi lebih memperhatikan bagaimana melafalkan secara benar dari pada berusaha memahami ide yang di andung dalam kata-kata yang di baca.

Dengan menghilangkan sama sekali cara membaca dengan melafalkan dalam batin apa yang kita baca memang tidak mungkin, tetapi masih dapat di usahakan dengan cara melebarkan jangkauan mata sehingga satu fiksasi (pandangan mata) dapat menangkap beberapa kata sekaligus dan langsung menyerap idenya daripada melafalkannya. Kita harus sadar bahwa yang penting dalam membaca adalah menangkap ide, bukan mengingat-ingat atau menekuni simbol-simbol yang tercetak didalamnya (Soedarso 2002:5)

c. Macam-Macam Membaca Cepat

1.) Membaca secara skimming atau scanning (Kecepatan lebih 1.000 kpm)

Di gunakan untuk :

a. mengenal bahan yang akan dibaca;

b. mencarari jawaban atas pertanyaan tersebut;

c. mendapat struktur dan organisasi bacaan serta menemukan gagasan umum di bacaan itu.

2.) Membaca dengan kecepatan tinggi (500-800 kpm)

Di gunakan untuk:

a. membaca bahan-baham yang mudah dan telah di kenali;

b. membaca novel ringan untyki mengikuti jalan ceritanya.

3.) Membaca secara cepat (350-500)

Digunakan untuk:

a. membaca bacaan yang mudah dalam bentuk deskriptif dan bahan-bahan nonfiksi lain yang bersifat informatif;

b. membaca fiksi yang agak sulit untuk menikmati keindahan sastranya dan mengantisipasi akhir cerita.

4.) Membaca dengan kecepatan rata-rata (250-350 kmp)

Di gunakan untuk:

a. membaca fiksi yang kompleks untyk analisis watak serta jalan ceritanya;

b. membaca nonfiksi yang agak sulit, untuk mendapatkan detail, mencari hubungan, ataun membuat evaluasi ide penulis.

5.) membaca lambat (100-125 kpm)

Di gunakan untuk:

a. mempelajari bahan-bahan yang sulit dan untuk menguasai isinya;

b. menguasai baham-bahan ilmiah yang sulit dan bersifat tehnik;

c. membaca analisis bahan-bahan yang bernilai sastra klasik;

d. memecahkan persoalan yang di tunjuk dengan bacaan yang bersifat intruksional (pedoman) dalam (Soedarso 2002:18)

d. Cara Membaca Cepat

1.) Melihat dengan Otak

Kegiatan membaca di lakukan bersama-sama oleh maya dan otak. Mata melihat dan otak menginterpretasikan saat itu juga sehingga “apa yang anda lihat, itulah yang anda dapat”. Otak menyerap apa yang dilihat oleh amata. Oleh karena itu, melihat adalah mengerti.

2.) Gerakan Mata dalam Membaca

Gerakan mata tergantung pada jarak denda yang dilihat. Apabila kita melihat jauh mengikuti benda yang bergerak di lapangan pandang yang luas, mata bergerak halus dan rasa seperti kalu kita melihat gambar atau membaca: gerakan mata cepat, tersentak-sentak dalam irama tarikan-tarikan kecil, seperti melompat-lompat.

3.) Melebarkan Jangkauan Mata

Pada saat mata berhenti, jangkauan mata kita dapat menangkap beberapa kata sekaligus. Kata-kata dalam jangkauan mata itu dapat di kenali sekalipun pembaca tidak memfokuskannya pada setiap kata itu.

4.) Transisi Fiksasi ke Fiksasi

Bacalah sebuah buku saku dengan cepat, menurut irama, dan perlebar jangkauan mata: dalam satu baris tiga fiksasi. Perpendek waktu transisi fiksasi ke fiksasi. Cobalah satu fisasi dengan sekali pandang, lalu bergerak ke fiksasi berikutnya.

5.) Gerakan Otot Mata dan Latihan

Gerakan mata di kendalikan oleh otot kecil yang kuat. Otot-otot ini bersama-sama menarik mata dalam rangkaian tarikan-tarikan kecil tatkal kita menelusuri baris0baris tulisan. Karena itu, apabila otot-otot mata terasa penat, kita lalu mengeluh, “mata capek”.

Untuk mendobrak kebiasaan gerakan mata yang sudah mendarah daging itu diperlukan latihan yang terencana dan intensif yang memberian kesempatan otot-otot mata melakukan semacam “senam”.

6.) Meningkatkan Konsentrasi

Apabila perhatian kita fokuskan pada bahan yang kita baca maa gagasan dan gambaran tentang isi bacaan akan nampak jelas dan mudah kita pahami. Untuk meningkatkan daya konsentrasi ada dua kegiatan penting, yaitu:

a.) menghilangkan atau menjauhi hal-hal yang menyebabkan pikiran menjadi

kusut

b.) memusatkan perhatian secara sunggug-sungguh dalam (Soedarso 2002:50)

e. Membaca SQ3R

Pengertian membaca SQ3R adalah membaca yang efektif dan efisisen untuk memahami dan mengingat lebih lama.

Membaca dengan metode SQ3R sangat baik untuk kepentingan membaca secara intensif dan rasional. Metode pembacaan studi ini dianjurkan oleh seorang guru besar psikologi dari Ohio State University, yaitu Prof, Francis P. Robinson dalam (A. Widyamartaya 1992:60).

Sistem mambaca SQ3rsingkatan dari: Survey, Question, Read, Recite, Review.

SQ3R merupakan proses membaca yang terdiri dari lima langkah, yaitu:

1.) Survey atau menyelidiki

Dalam langkah ini kita memeriksa halaman-halaman bab yang akan dipelajari. Semua itu bertujuan untuk memperoleh kesan atau gagasan umum tentang isinya. Penyelidikan ini kita lakukan dengan membaca sekilas (skimming).

2.) Question atau menanyakan

Dalam langkah kedua ini kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebelum mulai membaca seluruh bab. Pertanyaan-pertanyaan itu akan membangkitkan keingintahuan kita, akan membantu kita untuk membaca dengan tujuan, mencari jawaban-jawaban yang penting (relevan), dan akhirnya akan meningkatkan pemahaman dan mempercepat penguasaan seluruh bab ini.

3.) Read atau memabaca

Dalam langkah ketiga ini kita membaca untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kita. Kita dapat membaca cepat sekarang karena kita tahu apa yang kita cari dan dimana mencari jawaban-jawabannya. Kita akan dapat lebih cepat apabila kita telah melaksanakan langakah pertama dan kedua di atas.

4.) Recite atau mendaras

Dalam langkah keempat ini kita berusaha untuk memperkokoh perolehan kita dalam membaca. Di sini apa yang telah kita peroleh kita hubungkan dengan informasi yang kita peroleh sebelumnya dan kita bersiap diri untuk pembacaan selanjutnya. Pendarasan ini akan lebih lagi apabila di dukung dengan pembuatan catatan pada lembar catatan.

5.) Review atau mengulangi

Setiap tiap paragraf atau bagian dalam bab yang kita pelajari selesai kita baca menurut langkah ketiga dan keempat., kita ulangi kembali dan kita ingat-ingat kembali segenap isi ringkasan dan penting dari seluruh bab tersebut. Dengan langkah kelima ini, kita berusaha untuk memperoleh penguasaan bulat, menyeluruh, dan kokoh atas bahan dalam (A. Widyamartaya 1992:61).

f. Tujuan Membaca SQ3R:

1.) Menemukan ide pokok

Ide pokok dapat ditemukan di semua bagian buku. Buku secara keseluruhan mempunyai ide pokok yang umum, kemudian tiap bab mempunyai ide pokok yang agak spesifik.

2.) Mengetahui Ide Pokok Paragraf

Dalam suatu paragraf ada kalimat pokok atau kalimat kunci. Kalimat itu mengandung ide pokok paragraf. Kalimat lainnya adalah kalimat pendukung, yang mengurai, menjelaskan, melukiskan, menjabarkan, atau menyajikan contoh-contoh ide pokok.

3.) Mengenali Detail Penting

Untuk menentukan apakah detail itu penting atau tidak, hendaklah anak dapat bertanya: apakah detail tersebut merupakan contoh, penjelasan,dan pembuktian yang paling bagus terhadap ide pokok? Salah satu cara mengenali detail penulisan adalah dengan mencari petunjuk yang digunakan oleh penulis untuk membantu pembaca, baik berupa visual maupun kata-kata penuntun. Kata-kata visual itu misalnya:

a. Ditulis miring

b. Digaris bawahi

c. Dicetak tebal

d. Dibubuhi angka-angka, dan

e. Ditulis dengan menggunakan huruf-huruf: a, b, dan c.

4.) Mengingatkan lebih lama

Untuk mengingat bacaan lebih lama kita saat membaca usahakan memahami artinya. Untuk mengerti apa yang kita baca, tergantung pada mengapa dan bagaimana kita membaca. Jika kita menemui sesuatu yang menyenangkan dan membaca apa yang kita perlukan, kita akan mengingatnya dalam (Soedarso 2002:75)

B. Penelitian Yang Relevan

1. Sutarman (2007:1) melakukan penelitian yang berjudul “Hubungan Penguasaan Diksi Membaca dengan Kemampuan Membaca Pemahaman”. Tesis, Program Studi Bahasa Indonesia, Program Pascasarjana Universitas sebelas Maret Surakarta dan menyimpulkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Hubungan antara penguasaan diksi dan kemampuan membaca pemahaman; (2) Hubungan antara antara minat membaca dan kemampuan membaca pemahaman; (3) Hubungan antara penguasaan diksi dan minat membaca secara bersama-sama dengan kemampuan membaca pemahaman. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survey dengan teknik korelasi. Persamaan dengan peneliti adalah sama-sama membaca sedangkan perbedaannya adalah membaca dengan kemampuan membaca pemahaman, hubungan penguasaan diksi dan minat membaca.

2. Ernalis (2004:1-3) melakukan penelitian berjudul “Pengembangan Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan dengan Menggunakan Metode SAS di kelas I Sekolah Dasar” (Penelitian Tindakan Kelas di Sekolah Dasar Negeri Percobaan Kecamatan Cileunyi kabupaten Bandung) menyimpulkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) hubungan antara pengembangan pembelajaran membaca dan menggunakan metode SAS; (2) hubungan antara menulis permulaan dan menggunakan metode SAS; (3) hubungan antara pengembangan pembelajaran membaca dan menulis permulaan secara bersama-sama dengan metode SAS di Kelas I Sekolah Dasar. Persamaan dengan peneliti adalah sama-sama pengembangan pembelajaran membaca sedangkan perbedaan dengan penelitian ini adalah metode pengajaran yang di pakai dengan pembelajaran asistensi di Sekolah menengan Pertama (SMP) dengan model pembelajaran membaca saja.

3. Khaerudin Kurniawan (2001:1-3) melakukan penelitian berjudul “Metode Pembelajaran Membaca Permulaan melalui Peningkatan Kesadaran Fonologis dengan lagu dan puisi” dan menyimpulkan bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) Hubungan Model pembelajaran membaca permulaan melalui peningkatan kesadaran fonologis dengan lagu dan puisi terbukti efektivitas untuk mengembangkan kesadaran fonologis; (2) Hubungan antara kesadaran fonologis tidak muncul pada siswa yang menggunakan pembelajaran membaca permulaan secara konvensional dan (3) Hubungan antara kesadaran fonologis pada kelompok yang di beri perlakuan melalui model pembelajaran membaca permulaan melalui peningkatan kesadaran fonologis dengan lagu dan puisi.

4. Sugiarto (2007:12) melakukan penelitian berjudul “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar Membaca melalui Penerapan Metode Tutor Sebaya” (suatu penelitian tindakan kelas pada siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri 3 Lajer kabupaten Grobogan). Menyimpulkan belajar dan metode tutor sebaya; (2) Hubungan antara Peningkatan prestasi belajar membaca dan pembelajaran Bahasa Indonesia dan; (3) Hubungan antara penerapan metode tutor sebaya dan pembelajaran Bahasa Indonesia. Kesimpulan bahwa penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode tutor sebaya memberikan perubahan suasana pembelajaran di dalam kelas menjadi lebih kondusif dan siswa menjadi gemar membaca. Persamaan kalau peneliti adalah sama-sama membaca sedangkan pebedaan pada peneliti adalah upaya peningkatan prestasi belajar membaca dan metode tutor sebaya.

C. Kerangka Berfikir

Membaca cepat merupakan suatu jenis membaca yang diberikan dengan tujuan agar para siswa dalam waktu singkat dapat membaca secara lancar, serta dapat memahami isinya. Selain itu, membaca cepat biasanya di gunakan untuk mengelola secara cepat proses penerimaan informasi. Hambatan-hambatan dalam membaca cepat tersebut sering kita temui saat kita membaca buku. Membaca buku atau novel yang jumlah halamannya sangat banyak dan tebal. Faktor-faktor membaca cepat dimungkinkan dapat ditemukan dalam saat membaca buku yang jumlah halamnnya banyak atau membaca novel yang tebal.

Membaca cepat berarti membaca buku dengan cara cepat dan dengan waktu yang singkat. Selain itu, membaca cepat dengan cara scanning yaitu membaca dengan tehnik melompat (skipping) untuk langsung ke sasaran yang kita cari. Dengan kata lain, cara membaca cepat adalah membaca dengan upaya kita cepat menyelesaikan bacaan dengan waktu yang singkat.

Membaca dengan teknik SQ3R ini, sebelum membaca terlebih dahulu kita survei bacaan untuk mendapatkan gagasan umum apa yang akan kita baca. Lalu dengan mengajukan berbagai pertanyaan pada diri sendiri yang jawabannya kita harapkan terdapat dalam bacaan tersebut kita akan lebih mudah memahami bacaan. Dan, selanjutnya dengan mencoba mengutarakan dengan kata-kata sendiri pokok-pokok pentingnya, kita akan menguasai dan mengingatnya lebih lama. Dengan demikian membaca cepat dengan teknik SQ3R akan membantu kita dalam membaca cepat sehingga kita dengan cepat membaca dalam waktu yang singkat dan kita mengetahui pokok-pokok penting di dalam bacaan tersebut dengan mengingatnya lebih lama.

Berikut penu penulis sajikan kerangka berfikir penelitian yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat melalui teknik SQ3R Pada Siswa SMP Negeri Colomadu Karanganyar”.

Sistem membaca SQ3R

                                   
    clip_image003
      clip_image004   clip_image005   clip_image006
 
 
 
 
 

Survey

 

Question

 

Read

 

Recite

 

Review

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan Penelitian tindakan yang di laksanakan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, sehingga penelitian ini termasuk bentuk penelitian tindakan kelas. Adapun pelaksanaanya berbentuk kolaborasi antara pengamat dan peneliti sebagai pelaku tindakan. Penelitian tindakan kelas menekankan kepada kegiatan dengan mengujicobakan suatu ide ke dalam situasi nyata dalam kelas, yang diharapkan kegiatan ini mampu memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses belajar mengajar (Susilo 2007:10)

A. Jenis Penelitian

1. Penelitian Kualitatif

Istilah penelitian kualitatif pada umumnya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial secara fundamental bergantung dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya menurut Kirk dan Miller (1986:9). Mendefinisikan “ Metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat di amati menurut Bogdan dan Taylor (1975:5)

2. Penelitian Kuantitatif

Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk itu pengamat mulai mencatat atau menghitung mulai dari satu, dua, tiga, dan seterusnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada “Perhitungan atau jumlah” atau “Angka” atau “Kuantitas”. Atas dasar pertimbangan itulah maka kemudian penelitian kualitatif tampaknya di artikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Perbedaan antara penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif telah banyak di temukan oleh para ahli. Menurut Guba dan Lincoln (1981:62-82). Untuk penelitian kuantitatif digunakan scientific paradigm (paradigma ilmiah, penulis), sedangkan penelitian kualitatif dinamakan naturalistic inquiry atau inkuiri alamiah.

B. Obyek dan Subyek Penelitian

Obyek penelitian ini adalah “Peningkatan membaca cepat dengan membaca SQ3R”. Sedangkan subyek penelitian adalah peneliti sendiri yaitu

( Rofik Almuqontirin, dan sekelompok peneliti lainnya), guru bahasa Indonesia yaitu (Bu Rominah S.Pd) dan siswa kelas VII SMP negeri 3 Colomadu Karanganyar yang berjumlah (40) siswa.

C. Data dan Sumber Data

Data penelitian berasal dari hasil membaca cepat dengan SQ3R di kelas, buku bahasa Indonesia, sedangkan Sumber data penelitian ini berasal dari hasil kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia siswa di kelas VII B

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Dalam teknik pengumpulan data ada beberapa cara yang dapat digunakan diantaranya yaitu:

a. Pengamatan (observasi)

b. Wawancara (intervew)

c. Dokumentasi

d. Triangulasi/ gabungan

Dari keempat cara pengumpulan data tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data dengan Pengamatan (observasi)

Pengertian Pengamatan (observasi)

Menurut Nasution (1988) menanyakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan karena para peneliti karena para peneliti hanya dapat bekerja atau meneliti berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Observasi (pengalaman langsung) oleh peneliti tentang aktivitas dan sikap siswa pada saat proses pembelajaran.

2. Pengumpulan Data Dengan Wawancara (interview)

Wawancara adalah pertemuan antara dua orang atau lebih untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menentukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri, atau setidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi. Jadi dengan wawancara peneliti akan mengetahui hal-hal yang mendalam tentang partisipasi dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan melalui obeservasi. (Susan Stainback.1988).

3. Pengumpulan Data Dengan Dokumen

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observsi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akan lebih kredibel atau dapat dipercaya kalau didukung oelh sejarah pribadi kehidupan di masa kecil, di sekolah, di tempat kerja, di masyarakat, dan autobiografi. Tetapi perlu dicermati bahwa tidak semua dari dokumen memiliki kredibilitas yang tinggi.

4. Pengumpulan Data Dengan Triangulasi/gabungan

Dalam teknik pengumpulan data, Triangulasi/gabungan diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas atau kebenaran dari data itu, yaitu mengecek kebenaran data dengan berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.

E. Tehnik Validasi Data

Validasi membuktikan bahwa apa yang diamati oleh peneliti sesuai dengan apa yang sesungguhnya ada dalam dunia kenyataan, dan apakah penjelasan yang di berikan tentang dunia masih sesuai dengan sebenarnya ada atau terjadi (Nasution 1992:105). Dalam teknik validasi data penelitian menggunakan dengan cara trianggulasi. Trianggulasi dikalukan dengan cara trianggulasi teknik, sumber data dan waktu. Trianggulasi tehnik dilakukan dengan cara yang berbeda, yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Trianggulasi sumber, dilakukan dengan menanyakan hal sumber datanya adalah Kepala Dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, siswa dan masyarakat. Trianggulasi waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada berbagai kesempatan pagi, siang, sore hari. Dengan trianggulasi dalam pengumpulan data tersebut maka dapat diketahui apakah narasumber memberikan data yang sama atau tidak. Kalau narasumber memberi data yang berbeda, maka berarti datanya belum kredibel.

F. Tehnik Analisis Data

Analisis adalah proses penyusunan data agar dapa ditafsirkan. Menyusun data berati menggolongkannya dalam pola, tema atau kategori. Tanpa kategorisasi atau klasifikasi data akan menjadi chaos. Tafsiran atau interpretasi artinya memberikan makna kepada analisis, menjelaskan pola atau kategori, mencari hubungan antara berbagai konsep (Nasution, 1992:126). Dalam penelitian kualitatif, teknik analisis data yang digunakan sudah jelas, yaitu diarahkan untuk menjawab rumusan masalah atau menguji hipotesis. Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber. Dengan pengamatan yang terus menerus mengakibatkan variasi data tinggi sekali. Data yang diperoleh biasanya data kualitatif sehingga teknik analisis data yang digunakan belum ada pola yang jelas. Oleh karena itu sering mengalami kesulitan dalam melakukan analisis. Berdasarkan hal tersebut dapat dikemukakan disini bahwa analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh daro hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori menjabarkan kendalam unit-unit, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting danyang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain. Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama dilapangan, dan setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini, Nasution (1988), menyatakan bahwa analisis telah dimulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan, saat berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian. Namun dalam penelitian kualitatif, analisis data lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.

G. Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian

D. Manfaat Penelitian

BAB II KAJIAN TEORI, PENELITIAN YANG RELEVAN, DAN

KERANGKA BERFIKIR

A. Kajian Teori

1. Hakikat Membaca Cepat

a. Pengertian membaca cepat

b. Faktor-faktor Menghambat Membaca cepat

c. Macam-macam Membaca Cepat

d. Cara Membaca cepat

e. Membaca SQ3R

f. Tujuan Membaca SQ3R

B. Penelitian yang Relevan

C. Kerangka Berfikir

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

1. Penelitian Kualitatif

2. Penelitian Kuantitatif

B. Obyek dan Subyek Penelitian

C. Data dan sumber data

D. Teknik dan Alat Pengumpulan data

E. Teknik Validasi Data

F. Teknik Analisis Data

G. Sistematika penulisan

DAFTAR PUSTAKA

Nurhadi. 2005. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar baru Algensindo.

Soedarso. 2002. Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif. Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama.

Dr. Moleong, Lexy J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Men Subama, M. dkk, 2005. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: Pustaka Setia.

Menu Sogiyono. 2007. Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Kurniawan, khaerudin (Umi Almini, 2008:106). “ Model Pembelajaran membaca Permulaan melalui Peningkatan Kesadaran Fonologis dengan Lagu dan Puisi”. Http:// WWW.Depdiknas.go.id (diakses:27/09/2007)

Sutarman (Umi Almini, 2008:107). “ Pengembangan Pembelajaran Membaca dengan Kemampuan Membaca Pemahaman”. Tesis, Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Ernalis (Umi Almini, 2008:105). “Pengembangan Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan dengan Menggunakan Metode SAS dikelas 1 Sekolah Dasar”. Penelitian Tindakan Kelas di Sekolah Dasar Negeri Percobaan Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung.

Sugiarto (Umi Almini, 2008:108). “Upaya Peningkatan Prestasi Belajar membaca melalui Penerapan Metode Tutor Sebaya”. (Suatu Penelitian Tindakan pada Siswa Kelas III Sekolah Dasar Negeri 3 Kabupaten Grobogan). Klaten: Universitas Widya Dharma Klaten.

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

Blogger templates

About