Kamis, 04 April 2013

Posted by almuqontirin
No comments | 07.36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sastra merupakan karya seni yang bertujuan mencapai keindahan dan memberi pelajaran tentang kehidupan. Sastra itu adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam segi kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori atau sistem berpikir, tetapi juga media untuk menampung ide,teori, atau sistem berpikir manusia.

Sebagai karya kreatif, sastra harus mampu melahirkan suatu kreasi yang indah dan berusaha menyalurkan kebutuhan keindahan manusia. Disamping itu, sastra harus pula mampu menjadi wadah penyampaian ide-ide yang dipikirkan dan dirasakan oleh sastrawan tentang kehidupan umat manusia. Perlu ditegaskan kembali bahwa obyek seni sastra adalah pengalaman hidup manusia terutama yang menyangkut sosial budaya, kesenian dan sistem berpikir. Karya sastra itu dalam wujudnya mempunyai dua aspek penting, yaitu isinya dan bentuknya. Isinya adalah tentang pengalaman hidup manusia, sedangkan bentuknya adalag segi-segi yang menyangkut cara penyampaian sastrawan.

Menurut Herbert Read, mengemukakan bahwa puisi adalah ”predominantly intuitive, imaginative and sinthetic”. Dalam hal ini, Read menganggap bahwa puisi, bila dibandingkan dengan prosa lebih bersifat intuitif, imajinatif, dan sintetik, sedangkan prosa menurut Read lebih mengutamakan logika, yang bersifat konstruktif dan analitik. Karya sastra dapat dibedakan dalam berbagai bentuk, di antaranya novel, cerita pendek (cerpen), prosa, puisi dan lain sebagainya. Masing-masing karya sastra tersebut mempunyai ciri-ciri yang dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya.

Puisi pada umumnya mengandung makna yang bersifat konotatif. Oleh karena itu, untuk mengetahui makna sebuah puisi maka diperlukan langkah-langkah agar kita dapat mengungkap makna yang tersirat di dalamnya. Di antaranya dengan membaca secara berulang-ulang, melakukan pemenggalan dengan membubuhkan tanda garis tunggal sebagai tanda jeda, garis miring dua sebagai tanda berhenti, dan tanda garis lurus dua sebagai tanda terus membaca, membuat parafrase, menentukan kata-kata yang bersifat konotatif, dan menceritakan kembali isi puisi dengan kata-kata sendiri dalam bentuk prosa. Karya sastra dapat dibedakan dalam berbagai bentuk, di antaranya novel, cerita pendek (cerpen), prosa, puisi dan lain sebagainya. Masing-masing karya sastra tersebut mempunyai ciri-ciri yang dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya.

Puisi dapat di kaji dengan beberapa pendekatan, diantaranya pendekatan struktural, pendekatan emotif, pendekatan strata norma, pendekatan didaktis, pendekatan perbandingan antara prosa dan puisi, dan lain sebagainya. Dalam makalah ini, penulis akan menganalisis salah satu puisi karya Taufiq Ismail dengan pendekatan struktural.

B.  Rumusan Masalah

1. Apa pengertian puisi?

2. Bagaimana caranya menganalisis puisi ”Batara Kala” karya Subagio Sastrowardojo berdasarkan pendekatan struktural?

C.  Tujuan Penulisan

1. Memaparkan pengertian puisi dan menuliskan puisi karya Subagio Sastrowardojo.

2. Mendiskirpsikan cara menganalisis puisi ”Batara Kala” karya Subagio Sastrowardojo berdasarkan pendekatan struktural.

D.  Manfaat Penulisan

1. Dapat memaparkan pengertian puisi dan menuliskan puisi karya Subagio Sastrowardojo.

2. Dapat mendiskripsikan cara menganalisis puisi ”Batara Kala” karya Subagio Sastrowardojo berdasarkan pendekatan struktural.

BAB II

PEMBAHASAN

A.  Pengertian Puisi

Puisi adalah adalah salah satu bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya yang di gubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan. Sebagai salah satu karya sastra puisi mempunyai ciri-ciri yang dapat dibedakan dengan karya sastra lainnya, yaitu kalimatnya pendek dan padat, di tulis baris atau berderet-deret dan bait, serta kebanyakan bermakna konotatif.

William Worsworth dengan pendekatan struktural merumuskan puisi, puisi is the best words in the best order; artinya adalah kata-kata terbaik dalam susunan terbaik (Semi, 1988: 93). Puisi merupakan luapan yang perasaan yang bersifat imajinatif. Dengan susunan kata-katanya yang indah puisi dapat memberikan hiburan tersendiri bagi penulis maupun pembacanya. Selain itu, sebuah puisi pasti mengandung makna yang di ungkapkan penulis lewat karyanya. Seseorang dapat melukiskan keadaan jiwa dan perasaannya lewat karya sastra seperti puisi.

B. Analisis Puisi ”Batara Kala” Karya Subagio Sastrowardojo Berdasarkan Pendekatan Struktural

Pendekatan struktural yang digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra, dalam hal ini puisi, akan menghasilkan gambaran yang jelas terhadap diksi, citraan, bahasa khas, majas, sarana retorika, bait dan baris, nilai bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide yang digunakan pengarang dalam menulis puisinya. Di bawah ini akan disajikan sebuah puisi yang dianalisis berdasarkan pendekatan struktural.

Sebuah karya sastra, fiksi atau puisi, menurut kaum struktural adalah sebuah totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Analisis struktural karya sastra, yang dalam hal ini fiksi, dapat dilakukan dengan mengidentifikasi, mengkaji dan mendeskripsikan fungsi dan hubungan antarunsur intrinsik fiksi yang bersangkutan. Analisis struktural bertujuan memaparkan secermat mungkin fungsi dan keterkaitan antar berbagai unsur karya sastra yang secara bersama menghasilkan sebuah kemenyeluruhan.

Analisis struktural dapat berupa kajian yang menyangkut relasi unsur-unsur dalam mikroteks, satu keseluruhan wacana, dan relasi intekstual (Hartoko & Rahmanto, 1986: 136). Analisis struktural sebaiknya dilengkapi dengan analisis yang lain, yang dalam hal ini semiotik, sehingga menjadi analisis struktural-semiotik, atau analisis struktural yang dikaitkan dengan keadaan sosial budaya secara lebih jelas.

Pendekatan struktural yang digunakan untuk menganalisis sebuah karya sastra, dalam hal ini puisi, akan menghasilkan gambaran yang jelas terhadap diksi, citraan, bahasa khas, majas, sarana retorika, bait dan baris, nilai bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide yang digunakan pengarang dalam menulis puisinya. Di bawah ini akan disajikan sebuah puisi yang dianalisis berdasarkan pendekatan struktural.

Batara Kala

(Subagio Sastrowardojo)

Telah kuberikan semua yang diminta

Aku ditaruh di atas meja lantas dikelupas

Kulit demi kulit

Juga dagingku selapis demi selapis

Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong

Dengan tak sabar direnggut jantungku

Dari dada

Darah bercucuran di kamar bedah

Kepalaku, badanku, anggota tubuhku di remukkan

Dengan tangannya yang kuasa sehingga tak ada

Yang tersisa

Kecuali nyawa

Dan itu dilahapnya seketika

1. Struktur Lahir

a. Diksi (pilihan kata)

Diksi merupakan pemilihan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna dan suasana sehingga mampu mengembangkan dan mempengaruhi daya imajinasi pembaca. Dalam puisi “Batara Kala” diatas, terdapat beberapa pilihan kata yang digunakan oleh pengarang yang sederhana dan juga kata yang cukup sulit di pahami atau bermakna konotatif.

Pada Bait I, menggunakan kata-kata dengan makna secara sebenarnya yaitu

Telah kuberikan semua yang diminta

Pada Bait IV baris 2sampai 3, menggunakan kata-kata dengan makna secara sebenarnya yaitu

Dari dada

Darah bercucuran di kamar bedah

Dalam kata-kata dari dada, pembaca akan mudah mengetahui makna sebenarnya dari puisi tersebut, begitu pula pada kata-kata dalam kalimat, darah bercucuran di kamar bedah, kata yang digunakan adalah kata dengan makna sebenarnya.

Pada Bait VI, menggunakan kata-kata dengan makna secara sebenarnya yaitu

Kecuali nyawa

Pada Bait VII, juga menggunakan kata-kata dengan makna secara sebenarnya yaitu

Dan itu dilahapnya seketika

Pada Bait II baris 1 sampai 2, kata-kata yang digunakan dalam puisi diatas menggunakan unsur perumpamaan, ini bisa dilihat pada kata

Aku ditaruh di atas meja lantas dikelupas

Kulit demi kulit

Pada Bait II baris 1 sampai 2, kata-kata yang digunakan dalam puisi diatas menggunakan unsur perumpamaan, ini bisa dilihat pada kata

Juga dagingku selapis demi selapis

Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong

Pada Bait V baris 1 sampai 3, juga menggunakan kata-kata dengan unsur perumpamaan, ini bisa dilihat pada kata

Kepalaku, badanku, anggota tubuhku, diremukkan

Dengan tangannya yang kuasa sehingga tak ada

Yang tersisa

b. Pengimajian (citraan)

Pengimajian adalah kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan. Pada puisi “Batara Kala” karya Subagio Sastrowardojo di atas pengimajian yang digunakan oleh pengarang terdapat pada:

1. Citraan Penglihatan

Telah kuberikan semua yang diminta

Aku ditaruh di atas meja lantas dikelupas

Kulit demi kulit

Juga dagingku selapis demi selapis

Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong

Dengan tak sabar direnggut jantungku

Dari dada

Darah bercucuran di kamar bedah

Kepalaku, badanku, anggota tubuhku di remukkan

Dengan tangannya yang kuasa sehingga tak ada

Yang tersisa

Kecuali nyawa

Dan itu dilahapnya seketika

2. Citraan Gerak

Telah kuberikan semua yang diminta

Aku ditaruh di atas meja lantas dikelupas

Kulit demi kulit

Juga dagingku selapis demi selapis

Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong

Dengan tak sabar direnggut jantungku

Dari dada

Darah bercucuran di kamar bedah

Kepalaku, badanku, anggota tubuhku di remukkan

Dengan tangannya yang kuasa sehingga tak ada

Yang tersisa

Kecuali nyawa

Dan itu dilahapnya seketika

3. Citraan Pendengaran

Telah kuberikan semua yang diminta

Aku ditaruh di atas meja lantas dikelupas

Kulit demi kulit

Juga dagingku selapis demi selapis

Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong

Dengan tak sabar direnggut jantungku

Dari dada

Darah bercucuran di kamar bedah

Kepalaku, badanku, anggota tubuhku di remukkan

Dengan tangannya yang kuasa sehingga tak ada

Yang tersisa

Kecuali nyawa

Dan itu dilahapnya seketika

c. Kata konkret

kata konkret adalah kata-kata yang dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh. Pengonkretan kata berhubungan erat dengan pengimajinasian, pengembangan dan pengiasan. Pada puisi “Batara Kala” kata konkret terdapat

pada bait I, bait ke III (baris 1 dan 2), bait IV (baris 1 dan 2) dan bait V (baris 1 samapi 3)

Telah kuberikan semua yang diminta

Juga dagingku selapis demi selapis

Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong

Dengan tak sabar direnggut jantungku

Dari dada

Kepalaku, badanku, anggota tubuhku di remukkan

Dengan tangannya yang kuasa sehingga tak ada

Yang tersisa

d. Bahasa figuratif (majas)

Bahasa figuratif atau majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang biasa, yakni suara yang langsung mengungkapkan makna. Pada puisi “Batara Kala” terdapat beberapa majas yang digunakan, yaitu:

- Majas Metafora, yaitu bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tanpa mempergunakan kata-kata pembanding.

Seperti pada bait II (baris 1 dan 2)

Aku ditaruh di atas meja lantas dikelupas

Kulit demi kulit

Seperti pada bait II (baris 1 dan 2)

Juga dagingku selapis demi selapis

Juga tulangku dipatahkan sepotong-sepotong

Dengan tak sabar direnggut jantungku

Dari dada

Darah bercucuran di kamar bedah

Kepalaku, badanku, anggota tubuhku di remukkan

Dengan tangannya yang kuasa sehingga tak ada

Yang tersisa

- Majas Sinekdose pars prototo, sesuatu yang disebut sebagian, sedangkan yang dimaksudkan adalah seluruhnya. Pada kata “berjaket Bogor”

- Klimaks, pengurutan kata yang maknanya makin meluas, meninggi atau membesar. Terdapat pada kalimat “Bersandar dan berbaring, ada yang merenung”

b. Verifikasi (rima, ritme, metrum)

Rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi. Pada puisi “Benteng” rima terdapat pada bait I (baris ke 3 dan 4) yaitu pengulangan bunyi ng.

Dan kita kembali ke kampus ini berlindung

Bersandar dan berbaring, ada yang merenung

Terdapat rima pada bait II (baris ke 5 sampai baris ke 8) yaitu pengulangan bunyi a dan n

Ada yang berjaket Bogor. Mereka dari mana-mana

Semuanya kumal, semuanya tak bicara

Tapi kita tidak akan terpatahkan

Oleh seribu senjata dari seribu tiran

Terdapat rima pada bait III (baris ke 1 sampai baris ke 3) yaitu pengulangan bunyi n

Tak sempat lagi kita pikirkan

Keperluan-keperluan kecil seharian

Studi, kamar-tumpangan dan percintaan

Terdapat rima pada bait III (baris ke 4 dan baris ke 3) yaitu pengulangan bunyi

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam

Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam

Ritma adalah pengulangan bunyi, kata, frase dan kalimat. Pada puisi “Benteng” ritma terdapat pada bait I , bait II dan bait III yaitu pengulangan kata

Bait I (baris ke 2) : Sehabis tembakan-tembakan yang tak bisa kita balas

Bait II (baris ke 3) : Kulit duku dan pecahan kulit rambutan

Bait II (baris ke 5) : Mereka dari mana-mana

Bait II (baris ke 6) : Semuanya kumal, semuanya tak bicara

Bait II (baris ke 8) : Oleh seribu senjata dari seribu tiran

Bait III (baris ke 2) : Keperluan-keperluan kecil seharian

Bait III (baris ke 5) : Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam

Bait III (baris ke 4 dan 5): Kita tidak tahu apa yang akan terjadi sebentar malam

Kita mesti siap saban waktu, siap saban jam

Metrum adalah pengulangan tekanan kata yang tetap. Pada puisi “Benteng” metrum tidak terdapat pada puisi tersebut.

c. Tata wajah (Tipografi), Bentuk yang khas dari puisi

Pada puisi yang berjudul “Benteng” mempunyai, tipografi tetap.

  1. Struktur Batin

a. Tema

Tema adalah pokok bahasan atau gagasan utama penulis yang dituangkan di dalam karyanya. Pada puisi “Benteng” penyair menggunakan tema perjuangan (mahasiswa yang berdemonstrasi atau berorasi), karena terdapat pada beberapa bait sang penyair mengatakan tembakan-tembakan yang tidak dapat dibalas oleh para demonstran, sehingga mereka kembali ke kampus untuk berlindung (Bersandar dan berbaring, ada yang merenung). Mereka tidak memikirkan lagi keperluan sehar-hari seperti belajar dikampus, urusan cinta, atau bahkan kamar tempat untuk beristirahat.

b. Amanat (pesan)

Amanat merupakan pesan moral yang disampaikan pengarang lewat karyanya. Pada puisi “Benteng” amanat yang terkandung yaitu, perjuangan yang dilakukan demi kepentingan bersama harus dlakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan apapun, walaupun kita harus mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran demi menyuarakan nasib rakyat yang semakin tertindas. Mereka mengorbankan segalanya demi menyampaikan aspirasi rakyat.

c. Perasaan atau Sikap (Feeling)

Perasaan atau feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisi. Suasana perasaan sang penyair yang diekspresikan dan harus dihayati oleh pembaca. Pada puisi “Benteng” di atas sikap penyair yaitu mencoba memaparkan bagaimana kehidupan dan perjuangan yang dilakukan oleh para mahasiswa dalam berorasi menyuarakan tuntunan mereka yang memperjuangkan nasib rakyat kecil. Penyair menyampaikan puisi tersebut dengan perasaan lembut, halus, namun tetap tegas dan bersemangat, ini terlihat pada bait-bait puisi yang dibuat oleh penyair.

d. Nada dan Suasana

Nada yaitu nada yang dipakai penulis dalam mengungkapkan pokok pikiran. Puisi “Benteng” ini nadanya cenderung datar, tidak menampakkan luapan emosi penyair. Suasana, keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi yaitu pembaca merasa terharu, serta merenungkan bagaiman perjuangan yang dilakukan pejuang muda yang intelektual dalam memperjuangkan keluh kesah yang dialami oleh rakyat kecil yang semakin tertindas. Mereka mengorbankan semuanya demi rakyat.

BAB III

PENUTUP

  1. SIMPULAN

Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang mengekspresikan secara padat pemikiran dan perasaan penyairnya yang di gubah dalam wujud dan bahasa yang paling berkesan. Puisi “Benteng” karya taufiq Ismail ini di analisis menggunakan pendekatan struktural, dengan begitu kita mengetahui struktur-struktur yang membangun puisi ini. Baik itu struktur lahir maupun struktur batin.

Struktur lahir dalam puisi “Benteng” ini diantaranya pemilihan diksi yang tepat dan sesuai dengan makna puisi yang disampaikan, sehingga memudahkan pembaca dalam memahaminya, juga terdapat pencitraan perasaan, dan penglihatan. Terdapat pula Majas Sinekdose pars prototo dan klimaks. Terdapat rima (pengulangan bunyi) dan ritme, penyair juga menggunakan tipografi yang tetap.

Struktur batin di dalam puisi “Benteng” ini diantaranya tema dalam puisis ini adalah perjuangan (mahasiswa yang berdemonstrasi atau berorasi), ini terlihat pada bait-bait puisi yang dibuat oleh penyair. Pada puisi “Benteng” amanat yang terkandung yaitu, perjuangan yang dilakukan demi kepentingan bersama harus dlakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan apapun, walaupun kita harus mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran demi menyuarakan nasib rakyat yang semakin tertindas. Mereka mengorbankan segalanya demi menyampaikan aspirasi rakyat.

DAFTAR PUSTAKA

Nurgiantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

Blogger templates

About