Kamis, 04 April 2013

Posted by almuqontirin
No comments | 08.49

A. Kesantunan Pragmatik Imperatif dalam Tuturan Deklaratif

Kesantunan pragmatik imperatif pada tuturan deklaratif dapat dibedakan menjadi beberapa macam yang satu per satu diuraikan pada bagian-bagian berikut:

1. Tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatik imperatif suruhan

Lazimnya, makna imperatif suruhan diungkapkan dengan tuturan imperatif. Tuturan imperatif yang digunakan untuk menyatakan makna suruhan itu, dapat dilihat pada contoh tuturan-tuturan berikut:

· “Buka kamus Anda masig-masing!”

Informasi indeksal: Dituturkan oleh seorang dosen kepada para mahasiswanya di dalam kelas dalam pelajaran tertentu yang memerlukan bantuan kamus untuk mengerjakan tugas-tugasnya.

· “Ambil kertas dan siapkan alat tulis!”

Informasi indeksal: Dituturkan oleh seorang guru SLTP kepada para siswanya di dalam kelas pada saat akan diadakan tes tertulis.

Untuk menyatakan makna pragmatik imperatif suruhan, penutur dapat menggunakan tuturan yang berkonstruksi deklaratif. Tuturan dengan konstruksi deklaratif banyak digunakan untuk menyatakan makna pragmatik imperatif suruhan karena dengan tuturan itu muka si mitra tutur dapat terselematkan. Cara menyatakan yang demikian, dapat dianggap sebagai alat penyelamat muka karena maksud itu tidak ditujukan secara langsung kepada si mitra tutur. Maksud imperatif itu seolah-olah ditujukan kepada pihak ketiga yang tidak hadir di dalam kegiatan bertutur itu, dapat dilihat pada contoh tuturan berikut:

· Dosen: “Tugas menterjemahkan surat-surat bisnis sekarang ini tidak dapat dikerjakan tanpa menggunakan kamus.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan oleh seorang dosen bahasa Inggris kepada para mahasiswanya di dalam kelas pada saat mengajar penerjemahan.

· Direktur: “Surat peringatan untuk pembuat kesalahan itu harus secepatnya disampaikan kepada yang bersangkutan.”

Sekretaris Direktur: “Baik, Pak.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan oleh seorang direktur kepada sekretarisnya di dalam ruang kerja direktur.

2. Tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatik imperatif ajakan

Makna imperatif ajakan sering dituturkan dengan menggunakan tuturan imperatif dengan penanda kesantunan mari dan ayo. Penggunaan penanda kesantunan yang demikian, dapat dilihat pada contoh-contoh tuturan berikut ini:

· “Mari, kita buka pertemuan ini dengan doa pembukaan terlebih dahulu.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan oleh direktur pada saat ia akan mengadakan rapat kerja dengan para bawahannya.

· “Ayo kita selesaikan saja pekerjaan ini sampai tuntas dulu.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan oleh seorang supervisor kepada para pekerja yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya, makna pragmatik imperatif ajakan, tenyata, banyak diwujudkan dengan menggunakan tuturan yang berkonstruksi deklaratif. Adapun wujud kesantunan pragmatik imperatif ajakan dalam tuturan deklaratif itu, dapat dilihat pada contoh tuturan sebagai berikut ini:

· Istri: “Mas, nanti sore tidak usah jadi pergi ke tempat teman Mas, ya. Dalam arisan nanti sore itu, semua akan berangkat dengan suaminya.”

Suami: “Ya... nanti aku bisa juga.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan oleh seorang istri kepada suaminya pada waktu akan berangkat arisan bersama ke rumah temannya.

· Anak (berumur sekutar 6 tahun): “Bapak,... bapak... kampanye PPP bagus lho. Tapi aku takut kalau lihat sendiri.”

Bapak: “Waduh, ... Bapak baru banyak pekerjaan. Nanti sebentar lagi, ya.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan percakapan antara seorang anak dengan bapaknya pada saat-saat kampanye menjelang pemilihan umum.

3. Tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatif imperatif permohonan.

Makna imperatif permohonan dapat diungkapan dengan menggunakan bentuk pasif dimohon. Penggunaan bentuk pasif itu, lazimnya digunakan dalam kesempatan-kesempatan formal. Contoh tuturan dapat dilihat sebagai berikut:

· Sekretaris: “Mohon tanda tangan dahulu, Bu. Surat ini akan segera kami kirim ke Jakarta.”

Direktur: “Baik. Bawa sini, Mbak.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan percakapan antara seorang sekretaris dengan direktur di ruang kerja direktur pada saat sang sekretaris bermaksud meminta tanda tangan kepada direktur.

· Sekretaris desa: “Bapak Camat dan Bapak Lurah dimohon berkenan dhahar dulu di ruang tengah.”

Bapak Camat dan Bapak Lurah: “Sebentar, kami ke belakang dulu.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan para perangkat desa pada akhir sebuah pertemuan di balai desa.

Di dalam komunikasi keseharian yang sesungguhnya, seringkali didapatkan bahwa makna imperatif memohon tidak diungkapkan dengan tuturan-tuturan seperti yang telah disampaikan di atas. Bentuk deklaratif, ternyata, banyak digunakan untuk menyatakan makna pragmatik imperatif permohonan. Dengan menggunakan tuturan deklaratif itu, maksud imperatif memohon dapat dipandang lebih santun. Contoh tuturan dapat dilihat sebagai berikut:

· Seorang guru: “Bapak Kepala, nanti siang banyak Bapak dan Ibu guru yang akan pergi melayat ke Solo.”

Kepala Sekolah: “Baik, rapatnya kita tunda saja dulu.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan di dalam ruang guru pada sebuah sekolah oleh salah seorang guru kepada kepala sekolah. Saat itu, ada salah seorang famili dari guru sekolah tersebut yang meninggal dunia.

· Seorang siswa: “Pak, dengan permohanan maaf saya terpaksa mengatakan bahwa untuk bulan ini Bapak dan Ibu kami belum dapat melunasi uang sekolah.”

Bapak Guru: “Baik, katakan pada Bapak dan Ibu bahwa mereka tidak usah terlalu memikirkan uang sekolahmu dulu.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang siswa yang cukup pandai dan pemberani dengan seorang guru wali di sekolahnya. Saat itu, ia dan keluarganya sedang menghadapi masalah yang cukup berat sehingga tidak dapat membayar kewajiban keuangannya.

4. Tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatif imperatif persilaan

Tuturan imperatif yang menyatakan makna persilaan, biasanya, ditandai oleh penanda kesantunan silakan. Untuk maksud-maksud tertentu yang lebih formal, sering digunakan bentuk pasif dipersilakan seperti dapat dilihat dalam contoh tuturan berikut:

· Ibu: “Silakan masuk dik, silakan duduk dulu. Sebentar saya carikan. Atik baru main di belakang rumah dengan adik-adiknya.”

Seorang tamu: “Tidak usah Bu, kami di sini saja. Tadi kehujanan di tengah sawah.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang Ibu dengan tamu yang merupakan teman Atik, putrinya. Pada waktu anak tersebut berangkat, kebetulan kehujanan di tengah pematang sawah.

· Protokol: “Acara akan segera dimulai, hadirin dipersilakan segera masuk ruang dan mengambil tempat duduk yang telah disediakan.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan tuturan pewara dalam sebuah acara protokoler wisuda mahasiswa pada sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

Makna imperatif persilaan lazimnya ditandai dengan munculnya penanda kesantunan ayo dan mari. Pemakaian penanda kesantunan tersebut pada tuturan imperatif dapat dilihat pada contoh tuturan berikut:

· Ibu: “Ayo nak, segera masuk saja. Kasihan di luar ada guntur dan angin kencang.”

Tamu laki-laki: “Terima kasih Bu, tapi apakah Dik Tuti ada?”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang Ibu dengan anak laki-laki yang datang ke rumahnya. Anak tersebut teman dekat dengan putri sang Ibu.

· Mahasiswi: “Maaf Pak, apakah saya dapat menganggu sebentar?”

Dosen: “Oh, mari silakan masuk. Tunggu sebentar ya, saya seesaikan dulu ini.”

Infomasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang mahasiswa dengan seorang dosen pada saat mahasiswa tersebut datang untuk bimbingan skripsinya.

Di dalam komunikasi keseharian, seringkali ditemukan bahwa makna pragmatik imperatif persilaan diungkapkan dengan menggunakan tuturan yang berkonstruksi deklaratif. Dengan cara yang demikian, makna pragmatik imperatif persilaan itu dapat diungkapkan dengan lebih santun. Tuturan-tuturan berikut dapat dicermati dan dipertimbangkan untuk memperjelas hal ini.

· Seorang Murid SLTA: “Permisi,…permisi pak,…permisi.”

Kepala Sekolah: “Ya.”

Informasi inseksal: Tuturan ini terjadi pada saat seorang siswa datang menghadap Bapak kepala sekolah.

· Mahasiswa: “Maaf Pak, apakah saya dapat datang ke rumah untuk menyerahkan bab I dan II sekaligus?”

Dosen Pembimbing: “Baik. Jam lima saya ada di rumah.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang mahasiswa dengan dosen pembimbing di sebuah perguruan tinggi.

5. Tuturan deklaratif yang menyatakan makna pragmatik imperatif larangan

Imperatif yang bermakna larangan dapat ditemukan pada tuturan imperatif yang berpenanda kesantunan jangan. Selain itu, imperatif larangan juga ditandai oleh pemakaian bentuk pasif dilarang, tidak diperkenankan, dan tidak diperbolehkan pada tuturan. Berkenaan dengan hal ini, contoh tuturan berikut dapat dicermati dan dipertimbangkan.

· Ibu: “Jangan pernah berbicara itu lagi. Tidak boleh sama sekali.”

Anak kecil (berumur sekitar 6 tahun): “Kenapa Bu?”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang Ibu dengan anaknya yang kebetulan saat itu mengucapkan kata yang tabu dan tidak boleh diucapkan oleh seorang anak.

· “Dilarang menginjak-injak rumput di taman ini.”

Informasi indeksal: Bunyi sebuah tuturan peringatan pada sebuah taman di pinggir jalan di kota Yogyakarta.

Secara pragmatik, makna imperatif larangan seringkali diungkapkan tidak dengan menggunakan tuturan-tuturan seperti yang diungkapkan dalam contoh di atas. Contoh tuturan dapat dilihat sebagai berikut ini:

· “Pemulung masuk pekarangan, kami anggap pencuri.”

Informasi indeksal: Bunyi sebuah tuturan peringatan di pekarangan rumah penduduk pada sebuah kampung di Yogyakarta.

· “Terima kasih untuk tidak mencicipi makanan yang tidak Anda beli.”

Informasi indeksal: Bunyi sebuah tuturan peringatan pada stand makanan kecil di supermarket Hero Jalan Malioboro, Yogyakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

Blogger templates

About