Kamis, 04 April 2013

Posted by almuqontirin
No comments | 08.51

A. Kesantunan Pragmatik Imperatif dalam Tuturan Interogatif

Kesantunan pragmatik imperatif pada tuturan interogatif dapat dibedakan menjadi beberapa macam yang satu per satu diuraikan pada bagian-bagian berikut:

1. Tuturan interogatif yang menyatakan makna pragmatik imperatif perintah

Tuturan interogatif digunakan untuk menanyakan sesuatu kepada si mitra tutur. Dalam kegiatan bertutur yang sebenarnya, tuturan interogatif dapat pula digunakan untuk menyatakan maksud atau makna pragmatik imperatif. Makna pragmatik imperatif perintah, misalnya dapat diungkapkan dengan tuturan interogatif ini. Contoh tuturan dapat dilihat sebagai berikut ini:

· Komandan: “Amankan lokasi sekarang juga. Jangan beri kesempatan perusuh semakin bertindak brutal.”

Seorang anggota prajurit: “Siap, Komandan.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan sebuah instruksi militer seorang pimpinan kepada anak buahnya pada saat diadakan apel siaga.

· Pimpinan: “Selesaikan urusan telefon itu sekarang juga.”

Bawahan: “Baik, Pak. Kami akan segera berangkat ke kantor TELKOM sekarang juga.”

Informasi indeksal: Tuturan ini terjadi dalam sebuah kantor/ instansi pada saat terjadi ketidakberesan urusan telefon di kantor tersebut. Pimpinan menginstruksikan bawahannya untuk secepatnya membereskan masalah telefon tersebut.

2. Tuturan interogatif yang menyatakan makna pragmatik imperatif ajakan

Makna pragmatik imperatif ajakan di dalam bahasa Indonesia dapat diungkapkan dengan bentuk tuturan imperatif maupun tuturan nonimperatif. Maksud imperatif ajakan yang diungkapkan dengan tuturan interogatif akan lebih santun daripada diungkapkan dengan tuturan imperatif. Contoh tuturan dapat dilihat sebagai berikut ini:

· Anak Kecil: “Ayo, Bapak jadi ke apotek sekarang, beli Ponstan. Gigiku sakit sekali.”

Bapak: “Sebentar dulu, ya. Bapak selesaikan dulu mengetiknya.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang bapak dengan anaknya pada saat anak tersebut sakit dan meminta bapaknya membelikan obat ke sebuah apotek.

· Anak Kecil: “Buk…ayo sini to Buk. Sini to… Buk…!”

Ibu: “Sebentar Dik, Ibu baru membuatkan kopi untuk Bapak.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang anak kecil yang berusia sekitar 7 tahun dengan Ibunya pada saat anak tersebut menjelang tidur dan meminta ditemani oleh Ibunya di tempat tidur.

Maksud imperatif ajakan sebagaimana ditunjukkan dalam contoh-contoh tuturan di atas dinyatakan dengan bentuk tuturan imperatif. Dengan maksud sama, anak tertentu yang sudah cukup dewasa akan dapat mengungkapkan dengan tuturan lain yang berbentuk tuturan nonimperatif, seperti dapat dilihat pada contoh tuturan berikut:

· “Aduh…gigiku sakit banget. Ponstan sirupnya habis belum, Bapak? Apoteknya buka apa tutup ya hari Minggu begini? Aduh…sakit banget.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan oleh seorang anak yang sedang sakit gigi kepada Bapaknya pada saat mereka berada di ruang keluarga rumah mereka.

· “Buk…aku takut sendiri di sini. Ibu sudah selesai belum kerjanya? Aku tidak mau sendiri, lho, Buk.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaika oleh seorang anak kecil kepada Ibunya yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya yang dibawa kerumah. Anak kecil tersebut minta kepada Ibunya untuk menemani belajar di ruang belajarnya.

3. Tuturan interogatif yang menyatakan makna pragmatik imperatif permohonan

Imperatif yang bermakna memohon sangat lazim dinyatakan dengan bentuk tuturan imperatif permohonan yang ditandai oleh penanda kesantunan mohon atau dimohon dalam pengungkapannya. Dalam kegiatan bertutur yang sesungguhnya, ternyata banyak ditemukan bahwa tuturan interogatif dapat menyatakan maksud imperatif permohonan. Contoh tuturan dapat dilihat sebagai berikut ini:

· Pasien: “Dokter, mohon saya jangan diberi obat antibiotik.”

Dokter: “Kenapa? Apakah Ibu alergi obat?”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan yang terjadi di dalam ruang periksa sebuah rumah sakit antara seorang dokter dengan pasiennya, seorang ibu yang sedang hamil.

· Mahasiswa: “Mohon kiranya Bapak berkenan memberikan keringanan penyelesaian keuangan untuk semester ini.”

Bapak PD II: “Baik, tetapi coba ceritakan dahulu apa masalahmu.”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara seorang mahasiswa dengan pejabat PD II di sebuah kampus pada saat si mahasiswa memohon dispensasi keuangan.

Dari kedua tuturan di atas terlihat jelas bahwa maksud imperatif permohonan sudah cukup santun diungkapkan dengan memakai penanda kesantunan mohon. Sekalipun demikian, dengan digunakannya tuturan interogatif itu maksud imperatif permohonan yang sama akan dapat diungkapkan dengan lebih santun. Berkenaan dengan hal itu tuturan-tuturan berikut dapat dipertimbangkan.

· “Dokter apakah saya akan diberi obat antibiotik lagi? Tahun lalu saya alergi obat karena obat itu, lho, Dok.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan oleh seorang ibu yang sedang hamil kepda dokter pada saat mereka berada di dalam ruang periksa sebuah rumah sakit.

· “Bapak saya sakit keras dan masuk rumah sakit sejak satu bulan yang lalu. Ibu saya juga sudah jompo dan tidak bisa mencarikan saya uang kuliah lagi. Saya belum dapat menyelesaikan keuangan Pak, saat ini.”

Informasi indeksal: Tuturan ini disampaikan oleh seorang mahasiswa yang memohon dispensasi keuangan kepada pejabat PD II di sebuah kampus.

4. Tuturan interogatif yang menyatakan makna pragmatik imperatif persilaan

Seperti yang terdapat pada maksud-maksud tuturan imperatif lain, makna imperatif persilaan dapat pula dinyatakan baik dengan tuturan imperatif maupun tuturan nonimperatif. Bentuk persilaan dengan tuturan nonimperatif lazimnya digunakan dalam situasi formal yang penuh dengan muatan dan pemakaian unsur basa-basi. Situasi yang dimaksud dapat ditemukan, misalnya dalam kegiatan-kegiatan resmi dan dalam perayaan-perayaan tertentu, seperti dapat dilihat pada contoh tuturan berikut:

· Seorang petugas penerima tamu: “Bapak Bupati sudah rawuh dan duduk di dalam dengan Ibu. Alangkah sebaiknya Bapak lenggah di dalam saja bersama Bapak Bupati.”

Pembantu Bupati: “Terima kasih. Bapak-bapak yang lain apakah juga sudah rawuh semua di dalam?”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara penerima tamu dengan seorang pejabat pemerintah pada saat berlangsung pertemuan formal di instansi tertentu.

· Seorang panitia pelaksanaan seminar: “Sudah ditunggu Bapak-bapak penceramah yang lain. Apakah Bapak sudah siap menjadi penceramah pertama?”

Seorang Penceramah: “O…ya. Baik. Saya jadi yang pertama kali maju?”

Informasi indeksal: Tuturan ini merupakan cuplikan percakapan antara sorang anggota panitia pelaksana seminar dengan salah satu penceramah yang datang agak terlambat dalam acara tersebut.

5. Tuturan interogatif yang menyatakan makna pragmatik imperatif larangan

Tuturan-tuturan yang bermakna imperatif larangan sangat jarang ditemukan dengan bentuk nonimperatif. Contoh tuturan dapat dilihat sebagai berikut ini:

· Seorang penguji: “Siapa yang mau dikeluarkan dan dianggap gagal dalam ujian ini?”

Informasi indeksal: Disampaikan oleh seorang penguji dalam sebuah ujian negara di sebuah ruang ujian pada sebuah perguruan tinggi. Tuturan ini dimunculkan karena dosen penguji telah melihat ada seorang mahasiswa yang berusaha melakukan pencontekan.

· “Apakah Anda tidak membawa binatang?”

Informasi indeksal: Bunyi sebuah tuturan peringatan di dalam bus umum antar kota antar provinsi. Tuturan tersebut ditempelkan pada setiap dinding dalam bus angkutan tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

Blogger templates

About