Kamis, 04 April 2013

Posted by almuqontirin
No comments | 07.29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Karya sastra merupakan dunia imajinasi yang merupakan hasil kreasi pengarang setelah merefleksi lingkungan sosial budayanya. Dunia dalam karya sastra dikreasikan dan sekaligus ditafsirkan lazimnya melalui bahasa. Adapun yang dipaparkan pengarang dalam karyanya kemudian ditafsirkan oleh pembaca, berkaitan dengan bahasa.

Sastra merupakan karya seni yang bertujuan mencapai keindahan dan memberi pelajaran tentang kehidupan. Sastra itu sendiri adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Sastra dan manusia erat kaitannya, karena pada dasarnya keberadaan sastra sering bermula dari persoalan dan permasalahan yang ada pada manusia dan lingkungannya, kemudian dengan adanya imajinasi yang tinggi, seseorang pengarang dapat menuangkan masalah-masalah yang ada disekitarnya menjadi sebuah karya sastra. Sebagai seni kreatif yang menggunakan manusia dan segala macam segi kehidupannya, maka ia tidak saja merupakan suatu media untuk menyampaikan ide, teori atau sistem berpikir, tetapi juga media untuk menampung ide, teori, atau sistem berpikir manusia.

Sebagai karya imajiner, fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan, hidup dan kehidupan. Pengarang mengkhayati permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Perlu ditegaskan kembali bahwa obyek seni sastra adalah pengalaman hidup manusia terutama yang menyangkut sosial budaya, kesenian dan sistem berpikir. Karya sastra itu dalam wujudnya mempunyai dua aspek penting, yaitu isinya dan bentuknya. Isinya adalah tentang pengalaman hidup manusia, sedangkan bentuknya adalah segi-segi yang menyangkut cara penyampaian sastrawan.

Oleh karena itu fiksi menurut Altenbernd dan Lewis (dalam Nurgiantoro, 2009: 2), dapat diartikan sebagai prosa naratif yang bersifat imajiner, tetapi biasanya masuk akal yang mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia.

Ada berbagai bentuk karya sastra, salah satunya yaitu cerpen; (Inggris: short story). Cerpen adalah cerita yang pendek (Nurgiyantoro, 2009: 10). Cerpen memuat penceritaan yang memusat kepada satu peristiwa pokok. Cerpen dapat dikaji dari beberapa aspek, misalnya tema, penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan lain-lain. Semua kajian itu dilakukan untuk mengetahui sampai sejauh mana karya sastra dinikmati oleh pembaca. Tanggapan pembaca terhadap satu cerpen yang sama tentu akan berbeda-beda, sesuai dengan tingkat pemahaman dan daya imajinasi mereka, misal pada cerpen karya Ahmad Tohari yang berjudul ”Wangon Jatilawang”.

Cerpen ”Wangon Jatilawang” karya Ahmad Tohari, menggambarkan secara gamblang warni-warni dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat. Cerpen ini bercerita tentang seseorang (tokoh ”Aku”) yang bersahabat dengan orang yang memiliki keterbatasan dan keterbelakangan mental (Sulam), tokoh Aku sangat peduli dan menyayangi Sulam seperti anaknya sendiri. Sikap tokoh ”Aku” sangat bertentangan dengan para tetangga dan ibunya sendiri. Sulam dianggap kotor oleh orang-orang di sekeliling tokoh ”Aku”, namun tidak bagi tokoh ”Aku”. Cerpen ini menarik untuk dianalisis karena di dalam cerpen ini diceritakan realita kehidupan dalam masyarakat, cerpen ini mudah dipahami baik bahasanya maupun jalan ceritanya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Cerpen?

2. Bagaimanakah analisis struktur dalam Cerpen ”Wangon Jatilawang” karya Ahmad Tohari?

3. Bagaimana analisis makna dalam Cerpen ”Wangon Jatilawang” karya Ahmad Tohari?

C. Tujuan

1. Memaparkan pengertian Cerpen.

2. Mendeskripsikan struktur Cerpen ”Wangon Jatilawang” karya Ahmad Tohari.

3. Mendeskripsikan makna dalam Cerpen ”Wangon Jatilawang” karya Ahmad Tohari.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Cerpen

Cerita Pendek adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya.Cerita Pendek adalah karakter yang dijabarkan lewat rentetan kejadian daripada kejadian-kejadian itu sendiri satu persatu (Satyagraha Hoerip, 1979).

B. Analisis Struktur Fiksi

1. Tema

Tema merupakan elemen yang relevan dengan setiap peristiwa dan detil sebuah cerita sehingga bagian awal dan akhir cerita menjadi sesuai dan memuaskan pembaca (Stanton, 2007: 36-37). Sedangkan Tema adalah suatu gagasan sentral, gagasan utama, dan maksud utama yang ingin ditampilkan dalam suatu karya sastra.

Tema dalam cerpen ”Wangon Jatilawang” karya Ahmad Tohari adalah Rasa kasih sayang terhadap sesama makhluk ciptaan Tuhan. Tokoh “Aku” dalam cerpen “Wangon Jatilawang” merupakan tokoh yang sikap dan perbuatannya dapat dijadikan sebagai teladan bagi masyarakat. Tokoh “Aku” sangat menyayangi dan mengasihi terhadap seseorang yang mengalami keterbelakangan mental bernama Sulam.

“nasi atau uang?” ulangku.

“Aku sudah punya uang,” jawab Sulam sambil membuka tangannya. Ada kepingan logam putih di sana. Tetapi tangan itu pucat dan gemetar. Maka aku bangkit meninggalkan kedua tamuku yang duduk membisu. Sepiring nasi dan segelas teh kuberikan pada Sulam (hlm. 57).

Memang banyak orang yang tidak suka dengan tokoh Sulam karena tokoh Sulam adalah orang yang pembawa sial.

Aku merasa tak bisa berbuat lain kecuali menyilakan Sulam masuk, meski aku melihat tamuku jadi agak masam wajahnya. Setelah kutukar pakainnya, Sulam kuajak menikmati kenduri. Dia kubawa ke tempat persis di sampingku. Orang-orang yang semula duduk di dekatku menjauh, menjauh. Dan kenduriku malam itu berakhir tanpa keakraban. Para tamu pulang hanya dengan ucapan basa-basi. Wajah mereka jelas berbicara bahwa mereka merasa tersinggung karena Sulam kuajak duduk di antara mereka (hlm. 58).

Bahkan Mak juga mengatakan demikian bahwa tokoh Sulam banyak membuat hidup jadi apes.

“Lhah! Kamu seperti tidak tahu. Rumah siapa saja yang sering disinggahi orang semacam Sulam, bisa apes. Tak ada wibawa dan rezeki jadi tidak mau datang (hlm. 59).

2. Fakta Cerita

Fakta dalam sebuah cerita meliputi:

1. Alur

Menurut Stanton (2007: 26), secara umum alur merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain dan tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya. Alur dalam cerpen ”Wangon Jatilawang” adalah alur maju, lurus (progresif).

a. Tahap Penyituasian (situation)

Tahap ini berisi pelukisan dan pengenalan situasi latar dan tokoh-tokoh cerita. Tahap ini merupakan tahap pembukaan cerita, pemberian informasi awal, dan lain-lain. Peristiwa pertama menggambarkan kedatangan Sulam ke rumah tokoh “Aku”, saat itu tokoh “Aku” sedang menerima tamu penting. Tokoh “Aku” dan Sulam adalah sahabat. Setiap hari Sulam singgah kerumah tokoh “Aku” untuk makan dan minta uang.

Wajah dua tamuku mendadak berubah ketika Sulam masuk. Mereka makin bingung melihat Sulam terus melangkah dan berdiri tepat disisiku.

Kedua tamuku yang masing-masing memakai baju lengan panjang serta sepatu bagus itu, tentu tak mengenal Sulam.

“Nasi atau uang?” Ulangku.

“Aku sudah punya uang,” jawab sulam sambil membuka tangannya. Ada uang logam putih di sana. Tetapi tangan itu pucat dan gemetar. Maka aku bangkit meninggalkan kedua tamuku yang duduk membisu. Sepiring nasi dan segelas teh kuberikan pada Sulam (hlm. 57).

b. Tahap Pemunculan Konflik (generating circumstances)

Masalah-masalah dan peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik mulai dimunculkan. Tahap ini merupakan tahap awalnya munculnya konflik, dan konflik-konflik. Permasalahan mulai muncul ketika memasuki bulan puasa, Sulam tetap singgah kerumah tokoh “Aku”, sikapnya sangat berubah. Semua orang yang tinggal di antara Wangon dan Jatilawang mengatakan Sulam wong gemblung.

”Pak wong gemblung boleh tidak puasa kan ?”

”Ya, kamu boleh tidak berpuasa. Anakku yang masih kecil juga tidak berpuasa.”

“Tapi aku bukan anak kecil, Pak. Aku wong gemblung,”

kata Sulam serius (hlm. 59).

c. Tahap Peningkatan Konflik (rising action)

Konflik yang dimunculkan pada tahap sebelumnya semakin berkembang. Peristiwa-peristiwa dramatik semakin mencekam dan menegangkan. Konflik-konflik yang mengarah ke klimaks semakin tak dapat dihindari. Konflik mulai meningkat ketika hari lebaran sudah dekat, Sulam teringat akan ibunya, yang dia tau ibunya pergi ke kota untuk membelikan baju baru untuknya. Tokoh “Aku” berjanji akan membelikan baju baru untuknya.

“Mestinya Lebaran ditunda sampai emak pulang.”

“Hus! Lebaran tidak boleh ditunda. Nanti semua orang marah.”

“Tetapi emak belum pulang. Dia sedang pergi ke kota membeli baju.”

“Oh, aku tahu sekarang. Kamu tak usah menunggu emakmu. Nanti aku yang memberimu baju.” (hlm. 60).

d. Tahap Klimaks (climax)

Konflik atau pertentangan-pertentangan yang terjadi, yang dilakui atau ditimpakan pada para tokoh cerita mencapai titik intensitas puncak. Klimaks cerpen “Wangon Jatilawang” digambarkan ketika Sulam meminta baju baru pada tokoh “Aku”, karena hari lebaran sudah dekat. Namun, tokoh “Aku” mau memberikan baju yang diminta Sulam tepat pada hari lebaran. Tokoh “Aku” berpikir, jika baju itu diberikan pada saat itu juga, pasti Sulam akan mengotorinya. Akhirnya Sulam pergi dengan wajah murung, timbul rasa kecewa, dan akhirnya Sulam mati tergilas truk.

Dan aku mulai menyesal, mengapa tidak memenuhi permintaan Sulam akan baju dan celana yang layak. Mengapa aku khawatir tentang kebiasaan Sulam yang suka mengotori baju yang kuberikan, atau menukarnya dengan sebungkus nasi rames di pasar Wangon. Dengan demikian aku sungguh tidak layak mengaku sebagai sahabat Sulam.

Jam tujuh pagi hari itu juga penyesalanku menghujam ke dasar hati. Seorang tukang becak sengaja datang kerumahku

“pak, Sulam mati tergilas truk di batas kota Jatilawang.” Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Aku malu, perih (hlm. 61).

e. Tahap Penyelesaian

Konflik yang telah mencapai klimaks di beri penyelesaian, ketegangan mengendor, bahkan pada tahap ini cerita di akhiri. Penyelesaian dari cerpen ”Wangon Jatilawang” digambarkan ketika tokoh “Aku” sangat malu dan menyesal tidak mengabulkan permintaan Sulam yang terakhir kalinya.

Demikian malu sehingga aku tak berani menjenguk mayat Sulam. Menjelang pagi di hari Lebaran, Sulam datang lagi dalam angan-anganku. Dia sama sekali tidak meminta baju yang telah kujanjikan. Dia hanya menatapku dengan wajah yang jernih, dengan senyum yang sangat mengesankan. Kemudian Sulam gaib sambil meninggalkan suara tawa ceria yang panjang. Namun, aku perih mendengarnya. Malu (hlm. 62).

2. Latar

a. Latar Tempat

Latar tempat cerpen Wangon Jatilawang adalah di dua kota kecamatan, yaitu Wangon dan Jatilawang. Secara spesifik disebutkan beberapa latar tempat yaitu di rumah tokoh “Aku”, pasar Wangon, pasar Jatilawang, jalan raya antara Wangon dan Jatilawang.

Sulam keluar. Pastilah dia akan meneruskan perjalannya ke pasar Jatilawang. Sepanjang ruas jalan raya kelas dua itu nama Sulam sangat terkenal (hlm. 57).

Memasuki bulan puasa, Sulam tetap singgah kerumahku (hlm. 59).

Memang rumahnya kan pasar Wangon dan Pasar Jatilawang (hlm. 59).

b. Latar Waktu

Latar waktu cerpen Wangon Jatilawang terjadi pada setiap hari, pagi hari, sore hari, bulan puasa, malam hari dan hari lebaran.

Suatu hari, lepas magrib, Sulam datang (hlm. 58).

Hari hujan dan Sulam mampir berteduh karena sampai malam hujan tak reda, maka Sulam kusuruh menginap disini (hlm. 58).

Setiap hari Sulam berjalan menempuh tujuh kilometer itu pulang pergi; pagi ke Wangon, sore ke Jatilawang atau sebaliknya (hlm. 59).

Memasuki bulan puasa, Sulam tetap singgah kerumahku setiap pagi (hlm. 59).

Menjelang pagi di hari Lebaran, Sulam datang lagi dalam angan-anganku (hlm. 62).

c. Latar Suasana/Sosial

Latar sosial cerpen Wangon Jatilawang adalah masyarakat di dua kota kecamatan yaitu Wangon dan Jatilawang yang acuh terhadap Sulam yang memiliki keterbatasan fisik dan keterbelakangan mental, mereka tidak peduli dengan keadaan dan keberadaan Sulam, kecuali tokoh “Aku”.

Dia kubawa ketempat persis disampingku. Orang-orang yang semula duduk didekatku menjauh, menjauh. Para tamu pulang hanya dengan ucapan basa-basi. Wajah mereka jelas berbicara bahwa mereka merasa tersinggung karena Sulam kuajak duduk diantara mereka. (hlm. 58).

3. Penokohan

a. Tokoh Aku

Tokoh utama dalam cerpen Wangon Jatilawang adalah tokoh “Aku”. Sebagai peran Ia berperan sebagai tokoh utama (protagonis), yaitu tokoh yang diciptakan sebagai tokoh yang sesuai dengan harapan pengarang dan pandangan pembaca.

Tokoh “Aku” mau menerima dan bersahabat dengan Sulam, bahkan menganggap Sulam sebagai anaknya sendiri, walaupun sulam memiliki keterbatasan fisik dan keterbelakangan mental. Tokoh “Aku” juga digambarkan sebagai orang yang ramah dan rendah hati.

Secara psikologis tokoh “Aku” memiliki watak yang baik, selalu memberi, yaitu penyayang dan peduli terhadap orang lain serta tidak sombong.

Maka aku bangkit meninggalkan kedua tamuku yang duduk membisu. Sepiring nasi dan segelas teh kuberikan pada Sulam. (hlm. 57).

Karena sampai malam hujan tak reda, maka Sulam kusuruh menginap di sini. (hlm. 58).

Nanti aku yang memberimu baju.” (hlm. 60).

Secara fisiologis tokoh “Aku” adalah seorang laki-laki yang telah berkeluarga dan mempunyai anak.

Anak-anakku tak ada yang merasa takut padanya (hlm. 57).

Anakku yang masih kecil juga tidak berpuasa (hlm. 59).

Secara Psikologis tokoh “Aku” adalah orang yang ramah.

Secara Sosiologis tokoh “Aku” adalah orang yang cukup berada, ini terlihat pada saat dia menerima tamu penting, dan sering mengadakan kenduri.

ketika aku beberapa minggu kemudian menyelenggarakan kenduri lagi (hlm. 59).

kedua tamuku yang masing-masing memakai baju lengan panjang dan sepatu bagus (hlm. 57).

Secara karakter tokoh “Aku” adalah tokoh yang berkarakter bulat yaitu mempunyai karakter baik dan buruk.

Kamu tak usah menunggu emakmu. Nanti “Aku” yang memberi baju (hlm. 60).

“Oh iya. Kamu nanti akan memakai baju yang baik. Tetapi “Aku” tidak akan menyerahkan baju itu kepadamu sekarang. Bila baju itu kuberikan sekarang wah, repot. Kamu pasti akan mengotorinya dengan lumpur sebelum Lebaran tiba.” (hlm. 60-61).

b. Sulam

Tokoh Sulam berperan sebagai pendamping (antagonis) atau lawan dari tokoh utama. Sulam adalah orang yang di benci dan di jauhi oleh masyarakat karena gara-gara Sulam masyarakat bisa apes.

“Lhah! Kamu seperti tidak tahu. Rumah siapa saja yang sering disinggahi orang semacam Sulam, bisa apes. Tak ada wibawa dan rezeki jadi tidak mau datang (hlm. 59).

Secara fisiologis Sulam adalah seorang laki-laki berwajah bertubuh kerdil, berkepala seperti buah salak, dan memiliki keterbatasan fisik.

Kukira salah seorang di antara mereka ingin bertanya tentang siapa dan mengapa lelaki kerdil berkepala seperti buah salak itu (hlm. 58).

Secara psikologis Sulam memiliki kemampuan nalar yang terbatas (keterbelakangan mental).

“Tapi aku bukan anak kecil, Pak. Aku wong gemblung,” kata sulam serius (hlm. 60).

Secara sosiologis Sulam anak sebatangkara yang tinggal dipasar Wangon dan pasar Jatilawang.

Kemampuan nalarnya kukira sangat terbatas. Sulam menderita keterbelakangan mental, ia anak sebatangkara yang tinggal dipasar (hlm. 60).

Secara karakter Tokoh Sulam adalah karakter

Sarana Cerita

Sarana pengucapan sastra, sarana kesastraan (literaty devices) adalah teknik yang dipergunakan oleh pengarang untuk memilih dan menysun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna. Macam sarana cerita antara lain sudut pandang penceritaan, gaya (bahasa) dan nada, simbolisme, dan ironi.

a. Sudut pandang

Pengarang harus memilih sudut pandangnya dengan hati-hati agar cerita yang diutarakannya menimbulkan efek yang pas. Sudut pandang dalam cerpenWangon Jatilawang karya Ahmad Tohari adalah sudut pandang ”orang pertama-utama”, yaitu sudut pandang yang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri.

Kata banyak orang , Sulam hanya singgah dan berteduh di rumahku. Tetapi aku tak percaya akan cerita demikian. Kukira mereka memang tidak mempunyai istilah lain. (hal 60)

b. Gaya dan tone

Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Gaya bahasa merupakan bahasa yang digunakan penulis untuk menyampaikan cerita. Cerpen Wangon Jatilawang menggunakan gaya bahasa yang lugas, konkret, simpel dan langsung. Penulis tidak menggunakan kiasan atau simbol-simbol dalam menyampaikan cerita. Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah tone. Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita (Stanton, 2007: 61-63).

Namun aku merasa ragu, apakah mereka mempunyai cukup perhatian untuk mengenali Sulam kembali. (hal 59)

c. Simbolisme

Simbol berwujud detail-detail konkret dan faktual dan memiliki kemampuan untuk memunculkan gagasan dan emosi dalam pikiran pembaca. Dalam cerpen Wangon Jatilawang, penulis tidak menggunakan simbol-simbol didalam ceritanya.

d. Ironi

Secara umum, ironi dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukan bahwa sesuatu berlawanan dengan apa yang telah diduga sebelumnya.. sudut pandang orang pertama utama adalah sarana yang cukup baik untuk mengekspresikan ironi verbal. Sang narator mengungkapkan berbagai prasangka, kontradiksi, dan dugaan tanpa sadar sehingga malah menunjukan kelemahan karakternya sendiri.Ironi verbal digunakan untuk menyebutkan cara berekspresi yang mengungkapkan makna dengan cara berkebalikan.

Berdasarkan tinjauan sosiologi sastra, cerpen Wangon Jatilawang mengandung nilai-nilai edukatif. Nilai-nilai edukatif tersebut antara lain cinta dan kasih sayang antar sesama manusia (berbuat baik terhadap sesama), bahwa kita harus saling berbagi terhadap sesama, sikap toleransi, serta sikap saling tolong menolong terhadap sesama

BAB IV

PEMAHAMAN MAKNA

A. Nilai–nilai Edukatif yang Terkandung dalam Cerpen Wangon Jatilawang karya Ahmad Tohari

Setiap karya sastra baik itu berupa fiksi atau puisi pasti akan memiliki maksud atau pesan yang terkandung di dalamnya. Pesan yang ada tersebut diharapkan akan mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan cerminan bagi pembaca karya sastra. Selain itu, pembaca juga diharapkan mendapatkan nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Nilai luhur yang terdapat dalam karya sastra salah satunya adalah nilai moral. Moral merupakan sesuatu yang yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna ynag terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro, 2009: 321).

Teeuw (dalam Ratna, 2005: 4) menyatakan bahwa sastra berasal dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk dan instruksi.Akhiran tra berarti alat, sarana.Jadi, secara leksikal sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar dan memberi petunjuk atau buku pengajaran yang baik.Sastra dan pendidikan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan.

Kata nilai mempunyai arti harga, banyak sedikitnya isi, kadar mutu, hal- hal yang penting dan berguna bagi kemanusiaan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Alwi Hasan, 2007: 783). Kata edukatif mempunyai arti bersifat mendidik atau berkenaan dengan pendidikan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (Alwi Hasan, 2007: 284 ). Jadi dapat disimpulkan bahwa niilai merupakan sesuatu yang dihargai, selalu dijunjung tinggi, serta dikejar manusia dalam memperoleh kebahagiaan hidup suatu nilai jika dihayati akan berpengaruh terhadap cara berpikir, cara bersikap, maupun cara bertindak seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya.

Makna nilai yang diacu dalam sastra menurut Waluyo (2002: 27) adalah kebaikan yang ada dalam makna karya sastra bagi kehidupan seseorang. Hal ini berarti bahwa dengan adanya berbagai wawasan yang dikandung dalam karyasastra, khususnya cerpenakan mengandung bermacam-macam nilai kehidupan yang bermanfaat bagi pembaca.

Nilai edukatif dalam karya sastra menurut Shimpey dalam Rusdian Noer, 2004: 63) dibagi menjadi lima yaitu: (1) nilai ketakwaan terhadap tuhan, (2) nilai keterampilan, (3) nilai budaya, (4) nilai sosial, dan (5) nilai sikap.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai edukatif adalah segala sesuatu yang baik dan berguna bagi kehidupan manusia yang diperoleh melalui proses pengubahan sikap dan tata laku dalam upaya mendewasakan diri. Nilai edukatif dapat diperoleh dari pemahaman, pemikiran, dan penikmatan karya sastra. Karya sastra sebagai pengemban nilai-nilai pendidikan diharapkan keberfungsiannya untuk memberikan pengaruh positif terhadap cara berpikir orang mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Pada gilirannya karya sastra merupakan salah satu sarana memanusiakan diri serta orang lain sebagai unsur lingkungan kultural.

Nilai edukatif yang terkandung di dalam cerpen Wangon Jatilawang antara lain cinta dan kasih sayang antar sesama manusia (berbuat baik terhadap sesama), sikap toleransi, dan sikap tolong menolong.

1. Cinta dan kasih sayang antar sesama manusia

Cinta adalah prinsip untuk menciptakan dan mempertahankan hubungan yang dalam dan mulia. Cinta adalah kesadaran yang tidak egois dan mencintai dirinya. Kasih sayang adalah bagian dari cinta, maka dianjurkan untuk saling mengasihi sesama, dengan saling mengasihi dan mencintai yang tulus dapat memberikan kebaikan, pemeliharaan, persahabatan dan pengertian untuk melenyapkan kecemburuan serta menjaga tingkah laku.

2. Berbuat baik terhadap sesama

Berbuat baik terhadap sesama merupakan salah satu bentuk cinta dan kasih sayang. Saling mengasihi sesama makhluk Tuhan merupakan perilaku yang baik, dengan saling mengasihi setiap individu dapat mengerti dan membantu kesulitan yang dihadapi orang lain. Selain itu dengan saling mengasihi juga dapat menunjukan rasa sayang diantara sesama. Seperti tokoh aku yang sangat menyayangi Sulam seperti anaknya sendiri, walaupun Sulam memiliki keterbatasan. Tokoh aku menyambut Sulam dengan tangan terbuka tiap kali Sulam datang kerumahnya, tokoh aku selalu memberi uang dan makanan pada Sulam.

“nasi atau uang?” ulangku

Maka aku bangkit meninggalkan kedua tamuku yang duduk membisu. Sepiring nasi dan segelas teh kuberikan pada Sulam. (hal 57)

Nanti aku yang memberimu baju.” (hal. 60)

Hari hujan dan Sulam mampir berteduh karena sampai malam hujan tak reda, maka Sulam kusuruh menginap disini. (hal 58)

3. Saling Tolong-menolong

Manusia adalah makhluk sosial. Interaksi dengan orang lain adalah kebutuhan mutlak. Sehingga terjadi sosialisasi, saling tolong-menolong dan saling melengkapi sesuai kemampuan yang melekat pada diri masing-masing. sikap tolong menolong dicerminkan oleh tokoh aku terhadap sulam. Tokoh aku selalu membantu Sulam, Memberi pakaian yang layak, uang dan makanan, serta kasih sayang.Bahkan tokoh aku sangat menyesal karena tidak dapat mengabulkan permintaan terakhir Sulam, sampai akhirnya Sulam meninggal.

Dan aku mulai menyesal, mengapa tidak memenuhi permintaan Sulam akan baju dan celana yang layak. Mengapa aku khawatir tentang kebiasaan Sulam yang suka mengotori baju yang kuberikan, atau menukarnya dengan sebungkus nasi rames di pasar Wangon. Dengan demikian aku sungguh tidak layak mengaku sebagai sahabat Sulam. Jam tujuh pagi hari itu juga penyesalanku menghujam ke dasar hati. “pak, Sulam mati tergilas truk di batas kota Jatilawang.” Aku tak ingin mendengar ceritanya lebih jauh. Aku malu, perih. (hal 61)

4. Sikap Toleransi

Toleransi adalah sikap dalam memahami dan mengasihi orang lain, mengerti kelebihan dan kekurangan orang lain, serta bersifat terbuka dan reseptif terhadap perbedaan dalam kehidupan dilingkungan masyarakat. Sikap toleransi tokoh aku terhadap tokoh Sulam yang mempunyai latar belakang berbeda, tokoh aku tidak memperdulikan status Sulam, mereka saling menghargai satu sama lain. Nilai toleransi berarti kita harus bisa saling menghargai antar sesama tanpa membeda-bedakan satu sama lain dari sudut pandang manapun, kaya miskin, orang biasa atau orang terpandang. Tokoh aku bergaul dengan siapa saja tanpa memandang status sosial orang tersebut.

Tokoh aku dalam cerpen “Wangon Jatilawang” merupakan tokoh yang sikap dan perbuatannya dapat dijadikan sebagai teladan bagi masyarakat modern. Tokoh aku selain bisa bersosialisasi dengan orang kaya (digambarkan dengan dua tamu yang memakai lengan panjang dan bersepatu bagus) juga sangat menyayangi seseoarang yang mengalami keterbelakangan mental bernama Sulam. Sikap tokoh aku tersebut sangat bertentangan dengan para tetangga dan ibunya sendiri. Sulam dianggap kotor oleh orang-orang di sekeliling tokoh aku, namun tidak bagi tokoh aku. Dia sangat menyayangi Sulam. Sulam sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Bahkan tokoh aku sangat menyesal mendengar sulam telah tewas tergilas truk. Penyesalan tokoh aku dikarenakan dia tidak dapat mengabulkan permintaan terakhir Sulam. Sebelumnya, Sulam telah meminta baju baru pada tokoh aku, akan tetapi tokoh aku menolak dan akan memberikan baju itu pada saat lebaran.

Setelah kutukar pakaiannya. Sulam kuajak menikmati kenduri. Dia kubawa ke tempat persis disampingku. Orang-orang yang semula duduk didekatku menjauh. Para tamu pulang hanya dengan ucapan basa-basi. Wajah mereka jelas berbicara bahwa mereka merasa tersinggung karena Sulam kuajak duduk diantara mereka. (hal 59).

Guru bahasa dan sastra Indonesia sebagai tenaga pendidik dapat dijadikan pengaruh untuk mengajarkan nilai-nilai edukatif dalam karya sastra. Oleh karena itu, tugas pengajar tidak sekedar menyampaikan informasi, melainkan bisa membentuk dan membimbing peserta didiknya menjadi manusia yang berbudi luhur dan beretika dengan melalui karya sastra, khususnya melalui novel guru dapat mengajarkan sastra dengan memilah-milah novel yang mengandung nilai-nilai edukatif yang hasilnya dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa memiliki kepribadian yang baik.

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan analisis struktural, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang membangun cerpen Wangon Jatilawang karya Ahmad Tohari seperti tema, fakta cerita dan sarana sastra secara fungsional menunjukkan kepaduan, keterkaitan dan hubungan yang harmonis dalam mendukung totalitas makna. Tema dalam cerpen Wangon Jatilawang adalah kasih sayang terhadap sesama. Ini ditunjukkan oleh tokoh aku yang mau menerima Sulam, meskipun Sulam memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan, tokoh aku tetap berbuat baik dan menyayangi Sulam. Latar tempat terjadi di dua kota kecamatan Wangon dan Jatilawang, tepatnya di rumah tokoh aku, dan pasarWangon, pasar Jatilawang, jalan raya antara Wangon dan Jatilawang. Latar waktu terjadi pada pagi hari, sore hari, bulan puasa, malam hari dan hari lebaran.Adapun latar suasanannya adalah masyarakat yang acuh terhadap keberadaan Sulam.

Sudut pandang dalam cerpenWangon Jatilawang karya Ahmad Tohari adalah sudut pandang ”orang pertama-utama”, yaitu sudut pandang yang karakter utama bercerita dengan kata-katanya sendiri.Ironi verbal digunakan untuk menyebutkan cara berekspresi yang mengungkapkan makna dengan cara berkebalikan.

Berdasarkan tinjauan sosiologi sastra, cerpen Wangon Jatilawang mengandung nilai-nilai edukatif. Nilai-nilai edukatif tersebut antara lain cinta dan kasih sayang antar sesama manusia (berbuat baik terhadap sesama), bahwa kita harus saling berbagi terhadap sesama, sikap toleransi,serta sikap saling tolong menolong terhadap sesama.

B. Saran

Penulis berharap saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun untuk perkembangan ilmu yang akan datang agar lebih sempurna. Nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam cerpen Wangon Jatilawang karya Ahmad Tohari ini dapat dijadikan sebagai acuan oleh pembaca untuk diimplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Imron, Ali. 2003. “Metode Pengkajian Sastra: Teori dan Aplikasi”. Makalah Pada Diklat Pengkajian Sastra dan Pengajaran : Perspektif KBK. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Jabrohim. 2001. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widia.

Nurgiantoro, Burhan. 2009. Teori Pengkajian Fiksi.Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Stanton, Robert. 2007. Teori Fiksi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Tillman, Diane. 2004. Pendidikan Nilai untuk Kaum Muda Dewasa (terjemahan: Risa Pratono). Jakarta: Grasindo.

Tohari, Ahmad. 2005. Senyum Karyamin. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

0 komentar:

Poskan Komentar

Blogroll

Blogger templates

About